Dikutip dari Reuters, Jumat 2 Januari 2026, pada pembukaan perdagangan harga minyak mentah Brent naik 14 sen menjadi 60,99 Dolar AS per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS juga menguat 14 sen ke 57,56 Dolar AS per barel.
Ketegangan geopolitik kembali menjadi sorotan. Rusia dan Ukraina saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil pada Hari Tahun Baru, meskipun perundingan intensif yang diawasi Presiden AS Donald Trump terus berlangsung untuk mengakhiri perang yang hampir memasuki tahun keempat.
Di sisi lain, Amerika kembali menekan Venezuela. Washington menjatuhkan sanksi terhadap empat perusahaan dan sejumlah kapal tanker yang dinilai beroperasi di sektor minyak Venezuela. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya AS untuk menekan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
Blokade AS membuat kapal tanker yang terkena sanksi sulit keluar-masuk Venezuela. Akibatnya, perusahaan energi milik negara PDVSA terpaksa mengambil langkah-langkah ekstrem agar kilang tidak berhenti beroperasi, seiring menumpuknya persediaan bahan bakar residu.
Sepanjang 2025, harga minyak Brent dan WTI sama-sama anjlok hampir 20 persen, menjadi penurunan tahunan terdalam sejak 2020. Kekhawatiran akan kelebihan pasokan global dan dampak tarif dagang dinilai lebih dominan dibandingkan risiko geopolitik. Bagi Brent, ini menjadi tahun ketiga berturut-turut mengalami penurunan, rekor terpanjang sepanjang sejarah.
BERITA TERKAIT: