Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, menjelaskan upaya menyederhanakan mata uang Garuda itu dapat memiliki keuntungan praktis dan meningkatkan reputasi rupiah di kancah global.
Wijayanto menjelaskan, secara teori redenominasi tidak akan memicu inflasi. Namun dalam praktik, tetap ada potensi lonjakan harga yang kecil akibat persepsi masyarakat.
“Ada bias dimana masy merasa harga barang lebih murah, lebih agresif berbelanja sehingga inflasi naik, walau one off dan sangat minor,” katanya dalam keterangannya pada Selasa, 11 November 2025.
Ia menyebut sejumlah riset berbasis behavioral economics mendukung temuan tersebut. Karena itu, ia menilai cost < benefit, sehingga kebijakan penyederhanaan ini layak dilanjutkan.
Sejumlah negara seperti Turki, Polandia, Israel hingga Brasil disebut menjadi contoh yang sukses, sementara Zimbabwe dan Venezuela justru menjadi peringatan akibat buruknya implementasi.
Bagi Indonesia, Wijayanto sendiri menilai redenominasi bisa menjadi momentum besar untuk transformasi sektor keuangan, mulai dari pemberantasan uang palsu hingga menekan maraknya judi online dan pinjaman ilegal.
“Bisa juga jadi momentum berantas peredaran uang palsu. Atau membuat koruptor yang nimbun cash (kayak Zarof Ricar) mati kutu dan transformasi keuangan digital lainnya,” katanya.
Lebih jauh, ia menekankan redenominasi tidak boleh berdiri sendiri. Tanpa agenda reformasi yang lebih luas, dampaknya akan minimal.
“Redenominasi sukses jika dijadikan momentum untuk transformasi sektor keuangan. Jika stand alone, tidak akan berdampak. Saya termasuk yang mendukung redenominasi asal dengan cara yang benar,” ucapnya.
BERITA TERKAIT: