Penurunan dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi kelebihan pasokan, yang menutupi optimisme soal kemungkinan berakhirnya penutupan pemerintahan Amerika Serikat.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun 0,2 persen menjadi 63,93 Dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) turun 0,2 persen menjadi 60 Dolar AS per barel.
"Produksi OPEC yang terus meningkat dan permintaan yang melemah akibat melambatnya ekonomi global menekan harga minyak," kata analis dari Ritterbusch and Associates.
Sebelumnya, OPEC+ sepakat menaikkan target produksi Desember sebesar 137.000 barel per hari, sama seperti pada Oktober dan November. Namun, peningkatan produksi untuk kuartal pertama tahun depan ditunda.
Selain itu, sanksi baru AS terhadap perusahaan minyak Rusia Rosneft dan Lukoil juga menambah ketidakpastian. Sumber Reuters menyebut, Lukoil telah menyatakan keadaan kahar di ladang minyak Iraknya akibat sanksi, sementara Bulgaria berencana menyita kilang Burgas milik perusahaan itu.
Di kawasan Asia, volume minyak yang disimpan di kapal meningkat dua kali lipat dalam beberapa pekan terakhir. Hal ini terjadi karena sanksi Barat menghambat ekspor Rusia ke China dan India, sementara pembatasan kuota impor membuat kilang independen China menahan pembelian.
BERITA TERKAIT: