Perbankan mulai mengurangi
ketergantungan membuka kantor cabang untuk menjangkau nasabahnya di daerah.
Hal itu dilakukan seiring dengan digitalisasi dan gerakan cashless, mengingat banyak nasabah yang senang melakukan transaksi perbankan melalui anjungan tunai mandiri (ATM) atau mobile banking.
Hal ini sesuai dengan harapan Otoritas
Jasa Keuangan (OJK) yang pada beberapa
waktu lalu menyebutkan untuk mendorong stabilitas sektor keuangan lebih baik
dilakukan melalui digitalisasi layanan dan masyarakat tidak perlu lagi datang
ke kantor cabang.
Bank Mandiri, BNI, dan BRI getol
menambahkan mesin ATM canggih. Hingga September 2019 Bank Mandiri memiliki
18.291 mesin ATM. BNI memiliki 18.570 mesin ATM. BRI memiliki 20.846 mesin ATM
dan 3.209 CRM.
Bank Mandiri sendiri telah melakukan inovasi dalam ranah fintech untuk
mengantisipasi gerakan cashless.
"Pastinya kalau tak berubah kita ketinggalan. Fintech kan agresif. Kalau
nggak ikut, kita ketinggalan. Kita berkompetisi dengan mereka, kita kolaborasi,
apa yang bisa di leverage, itu oke saja," ujar Thomas Wahyudi, SVP Transaction
Banking Retail Sales, Minggu (24/11).
Thomas juga menyebut adanya disruption in digital era ini membuat transaksi
uang elektronik naik secara signifikan sebesar 94,7% dari tahun 2014.
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga telah memiliki ATM non tunai sebanyak 600 unit, ATM tarik tunai sebanyak 9.477 unit dan ATS atau ATM Tarik Setor atau cash recycling machines (CRM) sebanyak 6.888 unit).
"Total BCA punya mesin per 18
November 2019 sebanyak 16.965 mesin," jelas Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja, Selasa
lalu (19/11).
Menurut Jahja mesin ATM BCA akan terus bertambah hingga sekitar 700 mesin di lokasi
baru pada 2020 mendatang. 
< SEBELUMNYA
BERIKUTNYA >
BERITA TERKAIT: