BNI Percaya Diri Tapaki Kondisi Ekonomi 2018

Catat Kenaikan Laba & Sukses Turunkan NPL

Kamis, 18 Januari 2018, 09:54 WIB
BNI Percaya Diri Tapaki Kondisi Ekonomi 2018
Foto/Net
rmol news logo Menapaki tahun 2018, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mengaku percaya diri. Tak hanya membukukan kenaikan laba hingga 20,1 persen di sepanjang tahun 2017, BNI juga berhasil menurunkan rasio kredit macet (non performing loan/NPL)-nya dari 3 persen menjadi 2,3 persen.

BNI mencatatkan kenaikan laba bersih hingga 20,1 persen dari Rp 11,34 triliun menjadi Rp 13,62 triliun. Kenaikan tersebut, ditopang oleh perkembangan bisnis pada Segmen Business Banking dan Consumer Banking yang disertai dengan perbaikan kualitas aset.

Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan, dengan perkembangan bisnis tersebut, BNI mampu membukukan per­tumbuhan laba bersih yang lebih besar daripada industri perbankan yang pertumbuhan laba bersih­nya diperkirakan hanya mencapai 16,5 persen (yoy).

"Pencapaian laba ini turut membawa kinerja bisnis positif ke depannya. Selain itu, BNI juga berhasil membukukan per­tumbuhan Pendapatan Non-Bunga sebesar 13,9 persen dari Rp 8,59 triliun pada tahun 2016 menjadi Rp 9,78 triliun pada akhir tahun 2017," ucap Baiquni di acara paparan kinerja tahun 2017 di Jakarta, kemarin.

Baiquni melanjutkan, per­tumbuhan tersebut terutama didukung oleh kenaikan penda­patan fee based income (FBI) yang diperoleh antara lain dari transaksi trade finance dan remit­tance. Pertumbuhan FBI BNI ini jauh melampaui pertumbuhan FBI di industri perbankan yang diperkirakan tumbuh negatif sebesar -0,5 persen.

Tak hanya itu, penyaluran kredit BNI pada tahun 2017 tum­buh 12,2 persen atau lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit industri perbankan yang diperkirakan hanya 82 persen. Dengan penyaluran kredit terse­but, BNI mampu mencatatkan Pendapatan Bunga Bersih (NII) di tahun 2017 sebesar Rp 31,94 triliun.

"Tahun 2018, kita targetkan pertumbuhan kredit di kisa­ran 15-17 persen. Target ini seiring dengan kondisi ekonomi yang mulai membaik, terutama kredit-kredit di infrastruktur memang masih menggeliat," terangnya.

Bisnis BNI

Dari total kredit sebesar Rp 441,3 triliun yang berhasil dibu­kukan oleh BNI pada akhir 2017 sebesar Rp 345,50 triliun atau 78,3 persen dari total kredit disalurkan ke Segmen Bisnis Banking. Sedangkan sebesar Rp 71,4 triliun atau 16,2 persen dari total kredit disalurkan ke segmen Konsumer Banking. Selebihnya, Rp 24,37 triliun atau 5,5 persen dari total kredit disalurkan melalui perusahaan-perusahaan anak.

Untuk kredit Segmen Bisnis Banking sebesar Rp 134,40 triliun atau tumbuh 14,9 persen dibandingkan 2016 disalurkan kepada Debitor Korporasi Non BUMN (termasuk penyaluran kredit pada debitur-debitur yang berdomisili di luar lndonesia/Overseas).

Adapun yang sebesar Rp 84,37 triliun disalurkan pada debitor-debitor Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Selebih­nya. kredit pada segmen Bisnis Banking juga disalurkan kepada Debitur Menengah dan Kecil masing-masing Rp 70,26 triliun dan Rp 56,48 triliun atau tumbuh 14,6 persen dan 11,4 persen dibandingkan tahun 2016.

Sementara itu, pertumbuhan kredit pada Segmen Konsumer Banking BNI didorong terutama oleh pinjaman payroll yang tumbuh 47,1 persen dengan outstanding per 31 Desember 2017 mencapai Rp 17,7 triliun. Pinjaman payroll dioptimalkan dengan memanfaatkan database debitur Korporasi terutama yang berasal dari BUMN dan Institusi Pemerintah.

"Selain itu, segmen Konsumer Banking BNI juga disokong oleh Kredit Perumahan atau KPR yang mencapai Rp 37,07 triliun pada akhir Desember 2017 dan kartu kredit sebesar Rp 11,64 triliun," tuturnya.

Sementara itu, pertumbuhan kredit yang berkualitas, juga disebabkan oleh rasio NPL yang mengalami penurunan dari 3 persen di tahun 2016 menjadi 2,3 persen di 2017.

Baiquni mengatakan, keber­hasilan penurunan rasio NPL ini disebabkan banyaknya kredit gagal islah (damai). Sehingga sejak 2015, BNI melakukan pemurnian. Kredit di downgrade dan dicoba untuk direstrukturi­sasi, ada yang masih berpotensi untuk direstrukturisasi ada pula yang tidak berhasil.

"Misalnya PT Trikomsel Oke Tbk (TRIO) yang sejak tahun lalu menunggak Rp 1,3 triliun direstrukturisasi di tahun 2016. Namun di tahun kemarin ada permohonan restrukturisasi oleh Penundaan Kewajiban Pemba­yaran Utang (PKPU), namun hasilnya kurang menguntungkan bagi bank, dengan kondisi itu, maka kami melakukan hapus buku (write off) salah satunya," terang Baiquni.

Direktur Keuangan dan Risiko Kredit BNI Rico Rizal Budi­darmo menambahkan, sejalan dengan beberapa perbaikan, risk dan manajemen beberapa debitor yang sudah melakukan kewajibannya. ***

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA