Pasrah, Bulog Tetap Gelar Program Operasi Pasar

Keran Impor Beras Dibuka

Senin, 15 Januari 2018, 09:31 WIB
Pasrah, Bulog Tetap Gelar Program Operasi Pasar
Foto/Net
rmol news logo Pemerintah mulai kelimpungan menghadapi kenaikan harga beras. Kementerian Perdagangan (Kemendag) pun memutuskan untuk impor, Perusahaan Umum Badan Urusan Logistik (Perum Bulog) cuma bisa pasrah.

Keputusan impor oleh Ke­mendag terkesan tiba-tiba di tengah program operasi pasar Bulog yang masih berjalan. Pa­dahal, dua hari jelang rencana impor, tepatnya Selasa (9/1), Menteri Perdagangan Enggar­tiasto Lukita baru saja meresmi­kan operasi pasar (OP) dengan Bulog. Namun pada momen tersebut Mendag tidak menying­gung sedikit pun tentang impor beras.

Sekretaris Perusahaan Bulog Siti Kuwati mengaku, pihaknya sama sekali tidak dilibatkan da­lam pembahasan impor, berbeda dari impor sebelumnya di mana Bulog ditugaskan oleh pemerin­tah melakukan impor.

"Sejak operasi pasar memang belum ada omongan," jelasnya kepada Rakyat Merdeka.

Keputusan impor ini pun mencuat jelang panen raya pada bulan depan atau selambatnya Maret 2018. Pada panen raya nanti Bulog pun bakal menyerap banyak beras dari daerah yang dihasilkan petani. Namun Siti mengaku pihaknya pasrah den­gan keputusan impor.

"Yang telah diputuskan tentu harus dihormati,"  tutur Siti.

Dia pun enggan menanggapi lebih jauh tentang langkah Ke­mendag yang tidak lagi menun­juk atau melibatkan Bulog. Untuk diketahui dalam impor beras di awal 2018 ini Kemendag menugaskan PT Perusahaan Per­dagangan Indonesia (PPI) untuk mengimpor beras tersebut.

"Bulog hanya sebagai pelak­sana atau operator dari kebijakan pemerintah, kita akan jalani tu­gas yang diberikan," katanya.

Meski demikian, Siti menegaskan, program operasi pasar dengan menjual harga beras di bawah harga pasar tidak akan di­hentikan Bulog. Pihaknya bakal melanjutkan operasi pasar yang dilakukan di beberapa titik se­cara nasional. Perusahaan pelat merah ini juga sudah menam­bah jumlah titik OP dari 1.100 titik menjadi 1.800 titik yang tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

"Bulog telah dan akan terus melaksanakan OP sampai harga dianggap stabil dan di bawah Harga Eceran Tertinggi (HET)," katanya.

Siti membantah pernyataan jika operasi pasar dianggap tidak ada pengaruhnya. Menurutnya, operasi pasar yang dilakukan selama ini efeknya memang tidak instan mampu membuat harga turun drastis di seluruh Indonesia.

"Dampak operasi pasar saat ini ya minimal masyarakat mem­punyai pilihan harga beras yang lebih murah," katanya.

Dirinya berharap, operasi pasar yang dilakukan Bulog ini mampu menekan harga yang bergerak cepat.

"Dari operasi pasar ini harapannya kami setidaknya bisa menahan harga beras agar tidak cepat naik. Yang nantinya mu­dah-mudahan bisa benar-benar turun," tutur Siti.

Direktur Utama Bulog Djarot Kusumayakti menyatakan regulasi beras untuk keperluan khusus memang tidak melalui Bulog. "Saya tangkap regulasinya Bulog hanya mengurus beras umum,"  kata Djarot.

Ia juga menyarankan agar PPI sebagai operator impor melakukan perhitungan waktu dan kuantitas yang tepat. Sebab, waktu impor beras dilakukan menjelang panen raya.

Jika tak hati-hati, masuknya beras impor saat panen raya da­pat menjatuhkan harga gabah di tingkat petani. "Impor beras tentu butuh kesiapan," ujar Djarot. Di antaranya, ketersediaan pasokan di negara pengekspor, proses loading, lama perjalanan kapal, hingga waktu distribusi saat barang tiba.

Djarot percaya pemerintah telah memperhitungkan detail kebijakan yang diambilnya. "Kalau Mendag bilang Januari, berarti dia sudah punya hitungan tepat," tuturnya.

Harga Tetap Melambung


Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan alasan penunjukan pada PT PPI agar alokasi dan kualitas beras impor tersebut jelas.

Dirinya juga ingin menghin­dari anggapan jika beras impor tersebut dioplos sebelum didis­tribusikan ke pasaran.

"Kenapa tidak Bulog? Supaya jelas. Nanti timbul lagi perso­alan, kalau Bulog dioplos dan sebagainya," ujar dia.

Dijelaskan, nantinya PPI bisa bermitra dengan distributor atau pengusaha beras untuk langsung didistribusikan ke pasar. Sehingga tidak ada potensi penim­bunan atau kecurangan dalam distribusinya ke pasaran.

"Dari situ kita masukin di market langsung. Saya sudah sampaikan dan sekaligus lapor­kan," katanya.

Enggar memastikan beras impor tersebut akan masuk ke Indonesia pada akhir Januari 2018. Dengan demikian, diharap­kan bisa segera memenuhi kebu­tuhan beras hingga masuk masa panen pada Maret mendatang.

"Ini untuk mengisi posisi stok kita dan Insya Allah akan masuk sejak akhir Januari. Dia pada saat panen nanti, posisi ini sudah ada di sini, dan dia akan penetrate, karena ini ada di pihak BUMN, maka itu sebabnya ada di BUMN agar saya bisa kenda­likan mengenai supply market itu sendiri,"  katanya.

Enggartiasto mengungkap­kan, operasi pasar beras yang dilakukan oleh Perum Bulog masih belum berdampak besar untuk menurunkan harga beras yang melambung di pasaran. Karena itu, dia memilih cara lain dengan mewajibkan para pedagang beras untuk menjual beras Bulog.

Dia mengatakan, untuk daer­ah yang harga berasnya masuk kategori merah atau menukik tajam maka diwajibkan untuk menjual beras Bulog. Nantinya beras Bulog ini dijual di bawah harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan Kemendag. ***

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA