"Stok (Perum Bulog) saat ini anggap cuma ada 950 ribu ton. Kalau digelontorin 260 ribu saja, itu sudah cukup sampai panen raya bulan depan," kata Winarno kepada
Rakyat Merdeka, pada akhir pekan.
Dia menilai, impor beras penuh dengan keganjian. PerÂtama, ada kesan, impor telah direncanakan. Penyerapan Bulog pada tahun ini hanya 2,2 juta ton, padahal biasanya serapan mencapai 3,5-3,7 juta ton.
Kedua, pengambilan kepuÂtusan terkesan terburu-buru, mengingat Februari dan Maret jadwal panen raya.
"Apakah ada yang mau ambil keuntungan? Apakah ada yang butuh amunisi (dana) menjelang tahun politik?" tanyanya.
Ketiga, tabrak aturan. MenuÂrut Winarno, ada Peraturan Presiden (Perpres) yang meÂnyebutkan impor tidak boleh dilakukan satu bulan sebelum panen dan dua bulan setelah panen. Keempat, penyampaian keterangan impor oleh MenÂteri Perdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita tidak diÂdampingi pejabat lain.
"Keputusan impor beras biasanya diputuskan melaÂlui rapat koordinasi terbatas. Apakah sudah melalui itu? Pada ke mana tim pangan?" cetusnya.
Dan, kelima, penunjukan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) sebagai imÂportir. Padahal, Bulog lebih layak karena memiliki gudang penyimpanan dan penunjang lainnya.
"Kami pasti akan meminta pertanggungjawaban jika harga gabah petani jatuh," tegasnya.
Seperti diketahui, pemerintah akan melakukan impor beras sebanyak 500 ribu ton dari Thailand dan Filipina. Beras itu akan didatangkan secara bertahap mulai akhir Januari hingga bulan Maret. Kementerian Dalam Negeri (Kemendag) beralasan impor dilakukan untuk menekan harga beras premium dan meÂdium yang belakangan melamÂbung melewati harga eceran tertinggi (HET).
Menurut Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kemendag Oke Nurwan, proses impor dilakukan PPI merupakan proses impor pada umumnya. Pasalnya, beras yang diimpor jenis khusus dan bukan jenis medium.
Sementara itu, Gubernur SuÂlawesi Selatan (Sulsel) SyahÂrul Yasin Limpo menyatakan kesiapannya memasok beras ke daerah yang kekurangan. Karena, stok beras Sulsel berÂlimpah, cukup untuk 20 bulan ke depan.
"Sulsel dapat bertahan hingga 20 bulan. Di sini ada 82.000 ton, karena itu jika ada perintah, angkut saja (beras) ini ke seluruh provinsi 34 provinsi masing masing ambil 2.000 ton," ungkap Syahrul usai menggelar sidak beras, Sabtu (13/01).
Dia memperkirakan, tidak lama lagi stok beras di SulÂsel akan bertambah karena beberapa daerah sudah mulai panen.
"Pada bulan Maret, kami akan over stock 2,6 juta ton," imbuhnya. ***
BERITA TERKAIT: