"Sebuah langkah yang baik bagi SP JICT untuk menghentikan mogok kerja," terang dia dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Senin (7/8).
Menurut Arief, langkah tersebut sekaligus menampik anggapan sebagian pihak yang mengatakan bahwa mogok SP JICT adalah untuk merusak ekonomi bangsa dan perusahaan.
Sebelumnya, Nova Sofyan Hakim mengaku bahwa selama melakukan aksi, anggotanya kerap mendapatkan intimidasi. Arief berharap dengan berhentinya SP JICT berdemo, intimidasi itu juga ikut berhenti.
"Saya harap pasca selesai mogok, Direksi JICT tidak boleh melakukan intimidasi dan pemberian surat peringatan pada Anggota SP. Hal ini untuk menjaga kondusivitas di internal JICT, dan tidak boleh ada pencopotan jabatan terhadap anggota SP JICT yang kebetulan menjabat dijajaran menejemen JICT," harapnya.
Sejak 2014, SP JICT berjuang agar JICT dinasionalisasi. Rangkaian aksi itu menurut mereka untuk mencapai kemandirian ekonomi bangsa. Namun, alih-alih melakukan nasionalisasi, Pelindo II selaku induk perusahaan malah melakukan perpanjangan kontrak dengan Hutchison Port Indonesia (HPI) jilid II.
Arief Poyuono yang melihat kegigihan SP JICT pun memberikan semangat agar mereka terus berjuang. Namun kali ini caranya menurut dia dengan perundingan-perundingan. Dengan perundingan, Arief mengaku yakin bahwa perjuangan SP JICT akan cepat terealisasi.
"Yakinlah apa yang Kawan Kawan SP JICT perjuangkan akan terealisasi demi tercapainya cita cita Trisakti Nawacita yang di canangkan Pak Joko Widodo terutama Dalam hal kepelabuhan Dan Jasa logistik. Terus berjuang jangan mundur dengan apa yang telah kawan-kawan lakukan. Sebuah Sign bahwa Serikat Pekerja itu punya kekuatan dan posisi tawar dalam menentukan arah pembangunan ekonomi Indonesia yang lebih bermartabat," pungkas Arief.
[zul]
BERITA TERKAIT: