Dia pun mengimbau kepada para pedagang sapi kurban untuk tidak seenaknya menaikkan harga untuk memperoleh keuntungan di luar batas kewajaran di momentum Lebaran Haji tersebut tersebut.
"Tahun kemarin kita tidak kekurangan pasokan sapi, bahkan di jalan-jalan ramai jualan hewan kurban. Tapi, Idul Kurban itu kan hubungannya dengan akidah umat dengan ketersediaan sapi yang layak kurban. Oleh karena itu, kami mengimbau di musim Idul Kurban nanti, pedagang sapi jangan jualnya terlalu mahal sehingga memberatkan masyarakat," kata Oo Sutisna, kemarin.
Oo menjelaskan, dalam melaksanakan kurban, baik sapi, kerbau, maupun kambing, masyarakat memiliki dua kepentingan. Pertama, karena ibadah berdasarkan keyakinan.
"Ketika kepercayaan ini dilaksanakan dengan ikhlas agar hewan kurban ini bisa dibagikan ke masyarakat lain, tentunya jangan menjadi ajang kesempatan untuk dapat untung sebesar-besarnya," ucapnya, kembali mengingatkan.
Kedua, kelayakan hewan. Karena itu, Pemerintah, dalam hal ini Ditjen Peternakan dan Dinas-dinas Peternakan, harus melakukan langkah-langkah antisipasi agar hewan yang dipotong itu betul-betul layak baik secara medis maupun agama.
"Jadi, hewan kurban itu layak dipotong dari sisi usia, layak dimakan, dan terbebas dari penyakit ternak. Itu harapan kita," tambah dia.
[zul]
BERITA TERKAIT: