Tiga Daerah Jadi Kandidat Terkuat Calon Ibukota Baru

Contek AS, Bappenas Ngebut Siapkan Kajian

Kamis, 06 Juli 2017, 10:30 WIB
Tiga Daerah Jadi Kandidat Terkuat Calon Ibukota Baru
Foto/Net
rmol news logo Pemerintah ngebut menyiapkan ibukota baru. Tahun ini kajian ditargetkan rampung. Dan, 2018 diharapkan sudah masuk tahap persiapan pemindahan.

Menteri Perencanaan Pem­bangunan Nasional (PPN/Bap­penas) Bambang Brodjonegoro memastikan, pemerintah serius melaksanakan rencana pemin­dahan ibukota. Menurutnya, dirinya belum lama ini memba­has lebih detail rencana tersebut dengan Presiden Jokowi.

"Kajian ditargetkan selesai tahun ini. Dan, persiapan konsep pemindahan dilakukan tahun 2018 atau 2019," ungkap Bam­bang di Jakarta, kemarin.

Bambang menyebutkan, ada beberapa aspek yang menjadi kajian untuk melakukan pe­mindahan ibukota. Antara lain, penentuan lokasi, estimasi pen­danaan, dan tata kota.

Dia menjelaskan, pemindahan ibukota dilakukan bertujuan untuk memperbaiki kesenjangan ekonomi dan kesenjangan pem­bangunan.

Pemindahan ibukota, lan­jut Bambang, terinspirasi dari pemisahan pusat pemerintahan dan pusat bisnis yang dilakukan Amerika Serikat. Di negeri Pa­man Sam, Washington berperan sebagai ibukota pemerintahan, sementara New York menjadi pusat ekonomi dan bisnis.

Bambang enggan menyebutkan daerah mana yang masuk nomi­nasi menjadi calon ibukota baru, karena masih dalam kajian.

Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum dan Peruma­han Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono menyebutkan, setidaknya ada tiga daerah yang masuk menjadi kandidat calon ibukota baru.

"Informasi yang saya dapat dari Bappenas, ada tiga lokasi. Yakni Palangkaraya (Kalimantan Tengah), Samarinda (Kalimantan Timur) dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan)," jelasnya.

Basuki bilang, sejauh ini pihaknya belum bergerak melaku­kan kajian infrastruktur karena wilayahnya belum ditentukan.

Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menyambut baik rencana pemindahan ibukota.

"Kalau seumpama terjadi pemindahan, malah lega kita," ujarnya.

Djarot mengatakan, ibukota negara idealnya berperan seba­gai kota pemerintahan. Semen­tara saat ini, Jakarta menjalankan banyak peran.

Wakil Ketua DPR Fadli Zon meminta, pemindahan ibukota tidak dilakukan terburu-buru.

"Pendanaannya berat. Negara belum memiliki cukup anggaran. Kalau dipaksakan, utang semakin besar," ingatnya.

Fadli menegaskan, dalam melakukan pemindahan ibukota, khusus bangunan pemerintahan harus milik negara. "Nggak bisa punya ibukota baru, tapi pemerintah sewa gedung pemerintahan ke swasta," cetusnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA