Dikutip dari
Reuters, Rabu 6 Mei 2026, harga minyak Brent turun sebesar 4,57 Dolar AS menjadi 109,87 Dolar AS per barel, sementara minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) melemah 4,15 Dolar AS ke level 102,27 Dolar AS per barel.
Analis menilai pelemahan harga dipicu kombinasi sentimen positif dari perkembangan geopolitik dan aksi ambil untung setelah reli tajam.
Dalam catatannya, firma energi Ritterbusch and Associates menyebut bahwa optimisme dari pemerintahan Donald Trump terkait keberlanjutan gencatan senjata dengan Iran turut menekan harga. Namun, mereka menegaskan penurunan ini juga merupakan koreksi teknikal setelah kenaikan kuat dalam sepekan terakhir.
Di sisi lain, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Uni Emirat Arab (UEA) mengklaim mendapat serangan rudal dan drone dari Iran, meskipun Teheran membantah tuduhan tersebut. Pemerintah AS tetap bersikeras bahwa kesepakatan gencatan senjata masih berlaku, bahkan Menteri Pertahanan AS menyatakan jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai diamankan.
Di panggung internasional, Dewan Keamanan PBB mulai membahas kemungkinan resolusi baru terhadap Iran. Rancangan tersebut berpotensi membuka jalan bagi sanksi tambahan, bahkan penggunaan kekuatan militer jika ancaman terhadap pelayaran tidak dihentikan.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump melontarkan pernyataan keras dengan menyebut kemampuan militer Iran telah melemah dan mendesak Teheran untuk menyerah. Ia juga mengklaim Iran sebenarnya ingin mencapai kesepakatan secara diam-diam.
Dari sisi fundamental pasar, pelaku pasar kini menunggu data persediaan minyak AS. Analis memperkirakan terjadi penarikan cadangan sebesar 3,3 juta barel pada pekan lalu. Jika angka ini terealisasi, maka akan menjadi penurunan dua pekan berturut-turut sejak Januari, yang bisa memberi arah baru bagi pergerakan harga minyak ke depan.
BERITA TERKAIT: