Garuda Suntik Modal Kredit Citilink Indonesia 199 Miliar

Kalau Tak Berkembang Jadi Beban Induk Usaha

Selasa, 04 Juli 2017, 10:09 WIB
Garuda Suntik Modal Kredit Citilink Indonesia 199 Miliar
Foto/Net
rmol news logo PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) kembali memberikan fasilitas kredit kepada anak usaha mereka, PT Citilink Indonesia dengan nilai maksimal sebesar 15 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau setara Rp199,785 miliar (kurs Rp13.319 per dolar). Fasilitas ini diberikan karena Citilink butuh pendanaan besar untuk mengembangkan bisnisnya.

Direktur Keuangan Dan Manajemen Risiko Garuda Indo­nesia Linggarsari Suharso mengungkapkan, pinjaman tersebut berjangka waktu 13 bulan.

"Kita juga melihat nilai strategis Citilink bagi perseroan sebagai salah satu anak perusa­haan," ujar Linggarsari dalam keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), kemarin.

Linggarsari mengatakan, struktur keuangan Citilink yang belum kokoh sebagai anak pe­rusahaan membuat perseroan tidak memungkinkan merestui Citilink memperoleh pinjaman langsung dari perbankan. Oleh sebab itu, Garuda sebagai peme­gang saham memiliki peluang memenuhi kebutuhan pendanaan tersebut.

Seperti diketahui, sepanjang kuartal I-2017 Garuda Indo­nesia masih mencatatkan rugi bersih 98,5 juta dolar AS atau sekitar Rp 1,31 triliun. Padahal di kuartal I-2016, emiten dengan kode saham GIAA itu masih mencetak laba bersih sebesar 1,02 juta dolar AS.

Meskipun pendapatan naik 6,2 persen dari 856 juta dolar AS menjadi 909,5 juta dolar AS, namun biaya operasional yang membengkak hingga 1,01 miliar dolar memicu kerugian tersebut.

Direktur Utama Garuda In­donesia, Pahala N Mansury mengatakan, perseroan terus berupaya melakukan efisiensi untuk menggenjot pendapatan.

"Kita optimis ke depan akan lebih baik, apalagi di kuartal I pendapatan kita sudah meningkat lebih dari dua digit. Pada April kita mencapai 280 juta dolar AS, ini pencapaian yang cukup tinggi," kata Pahala di Jakarta.

Pahala menjelaskan, kenaikan tersebut di antaranya karena jumlah penumpang membaik, dan dari sisi average fare atau jumlah yang harus dibayarkan penumpang menurun dan stabil. Harga avtur atau bahan bakar juga sempat turun.

Pahala juga membantah isu Garuda yang mulai menga­lami kebangkrutan. Menurutnya, kondisi keuangan yang menurun di kuartal pertama tahun ini lebih kepada penurunan jumlah penumpang. Hal tersebut akan dikejar di kuartal kedua Tahun 2017.

"Untuk kuartal kedua tahun ini, kami yakin bisa lebih baik dibanding kuartal pertama. Karena kuartal pertama kan terbil­ang sepi ya, kalau di kuartal ked­ua sudah banyak long weekend, libur dan momen Lebaran. Kita juga lakukan berbagai terobosan sebagai upaya meningkatkan kinerja keuangan secara signifi­kan," ujar Pahala.

Harus Diaudit

Ketua BUMN Watch, Naldy Nazar Haroen menilai, meski sudah melakukan perombakan direksi dan nomenklatur peru­sahaan, Garuda masih belum bisa menemukan penyebab inefisiensi perusahaan.

"Direksi baru sepertinya be­lum melihat ini. Akibatnya, mereka belum bisa menaikkan kinerja keuangan di kuartal pertama tahun ini. Padahal, se­bagai BUMN, Garuda memiliki berbagai keunggulan dibanding kompetitior di bisnis penerbangan yang seharusnya bisa membuat mereka tumbuh besar," kata Naldy kepada Rakyat Merdeka.

Saat ini, lanjut Naldy, Garuda juga masih kewalahan bersaing dengan maskapai penerbangan swasta baik di kelas menengah ataupun kelas penerbangan mu­rah melalui anak usaha mereka, Citilink Indonesia.

"Citilink terus di suntik modal, tapi kinerjanya belum terli­hat. Kalau mereka tidak segera berkembang, malah akan jadi beban induk usaha. Ini harus segera dicarikan solusinya. Kedepan, Garuda harus di audit oleh auditor independen, agar bisa ketemu akan permasalahan­nya sehingga bisa meningkat ki­nerjanya," tegas Naldy. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA