Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, untuk menjadi anggota FATF tidak mudah. Harus mendapatkan dukungan dari semua negara yang berÂgabung dalam forum tersebut.
"Berkat melakukan pendekatan secara intensif beberapa bulan terakhir, oleh saya sendiri, Menteri Luar Negeri, keÂpada para Dubes (Duta Besar), dan PPATK (Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan), Indonesia mendapatkan dukungan untuk menÂjadi member FATF. Ini adalah suatu berita luar biasa penting dan baik," ujar Sri Mulyani di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, kemarin.
Dia mengatakan, ada tiga negara yang pertama menduÂkung Indonesia menjadi anggota FATF, yakni China, Jerman, dan Australia. Kemudian diikuti sejumlah negara lain. Hasilnya, dalam sidang Pleno FATF yang digelar 23 Juni 2017 di ValenÂcia, Spanyol, mayoritas peÂserta sidang, memutuskan untuk segera memproses keanggotaan Indonesia dalam FATF.
"Untuk bergabung menjadi anggota FATF umumnya memÂbutuhkan waktu 2 sampai 4 tahun. Makanya proses ini harus dikawal," ungkapnya.
Utang Membengkak Selain melawan praktik peÂcucian uang, Ani-panggilan akrab Sri Mulyani mengataÂkan, pihaknya akan berupaya keras menggejot pajak. Hal ini dilakukan sebagai upaya untuk menekan utang pemerintah yang terus mengalami peningkatan.
"Kami terus jaga secara hati-hati. Saya, Menteri Keuangan yang sangat inginkan supaya pendanaan pembangunan, kalau kami ingin kurangi utang maka penerimaan pajak harus dinaikÂkan," katanya.
Untuk diketahui, hingga akhir Mei 2017, total utang pemerinÂtah pusat tercatat mencapai Rp 3.672,33 triliun. Dalam sebulan, utang ini naik Rp 4,92 triliun dibandingkan jumlah di April 2017 yang sebesar Rp 3.667,41 triliun.
Ani menuturkan, ada beberapa langkah yang akan dilakukanÂnya. Antara lain, melakukan reformasi sistem perpajakan dan memantau potensi penerimaan dari berbagai aktivitas perekonomian. Kemudian, pemerintah menerapkan pengalokaÂsian belanja secara baik dan hati-hati.
"Entah dari jenis belanjanya maupun dari efisiensi belanjanya yang perlu diperhatikan, denÂgan adanya keseimbangan di penerimaan lalu strategi beÂlanja kita harapkan defisit akan terus menerus bisa ditekan," ungkapnya.
Ani mengatakan, ada belanja yang tidak akan diotak-atik dan diutamakan pemerintah yaitu belanja di sektor pendidikan dan kesehatan. Dua sektor ini tidak bisa lagi ditunda karena meÂnyangkut masa depan bangsa.
Dia memastikan rasio utang pemerintah pusat masih terbilang terkendali. Sebab, seÂcara nasional masih 30 persen di bawah Produk Domestik Bruto (PDB). Begitu juga denÂgan defisit anggarannya yang dibatasi maksimal sebesar 3 persen. Jika dibandingkan denÂgan negara berkembang seperti India, Brasil, Meksiko, dan Argentina, Indonesia merupaÂkan negara yang masih relatif terjaga utangnya.
Selain soal utang, lanjut Ani, pekerjaan rumah yang segera akan dilakukan dalam waktu dekat melakukan pemÂbahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2017. ***
BERITA TERKAIT: