Kenaikan Harga Pangan Kerek Inflasi Mei 2017

Sabtu, 03 Juni 2017, 08:56 WIB
Kenaikan Harga Pangan Kerek Inflasi Mei 2017
Foto/Net
rmol news logo Klaim pemerintah harga bahan pangan terkendali tidak selaras dengan data Badan Pusat Statistik (BPS). Lembaga ini mencatat kenaikan kebutuhan bahan pokok sebagai penyumbang inflasi terbesar bulan Mei 2017.
 
BPS mencatat pada bulan Mei 2017 terjadi inflasi sebesar 0,39 persen. Penyebab utamanya kenaikan kelompok bahan makanan dan pengeluaran biaya hidup rutin lainnya.

"Dari pantauan BPS di 82 kota, 70 di antaranya mengalami inflasi, dan hanya 12 kota deflasi," kat Kepala BPS Kecuk Suhariyanto di Jakarta, kemarin.

Dengan inflasi Mei 0,39 persen, akumulasi Januari-Mei 2017 dari bulan ke bulan (month to month/MoM) menjadi 1,67 persen. Sedangkan dari tahun ke tahun (year of year/YoY) mencapai 4,33 persen.

Kecuk merincikan, kelompok bahan makanan sumbang inflasi paling tinggi yakni sebesar 0,86 persen. Pada kelompok ini ke­naikan terjadi antara lain pada bawang putih, telur ayam ras, daging ayam ras, beras, daging sapi, jengkol, dan cabe merah.

"Dari inflasi 0,39 persen, bawang putih menyumbang 0,08 persen. Ini terjadi karena kenai­kannya tinggi dibandingkan bu­lan sebelumnya," ungkapnya.

Setelah bahan makanan, lan­jut Kecuk, inflasi disumbang dari kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau sebesar 0,38 persen. Pada kelompok ini kenaikan terjadi pada nasi dengan lauk, rokok kretek, rokok kretek filter.

Setelah itu, kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar 0,35 persen. Kemu­dian, kelompok sandang sum­bang inflasi 0,23 persen. Pada kelompok ini kenaikan terjadi antara lain pada baju muslim wanita. Dan, terakhir kelompok transportasi, komunikasi, dan jasa keuangan menyumbang inflasi 0,23 persen.

Kecuk mengatakan, kendati bahan pangan memberi­kan kontribusi besar terhadap inflasi bulan Mei. Namun jika dilihat minggu per minggu, perkembangannya cukup menggembirakan. Misalnya, mulai terjadi penurunan pada harga bawang putih pada minggu ke empat. Harga daging sapi juga terpantau terkendali.

"Penurunan ini menunjukkan apa yang dilakukan pemerin­tah cukup efektif dalam men­jaga harga-harga menjadi lebih terkontrol dibandingkan tahun-tahun sebelumnya," katanya.

Tak hanya itu, Kecuk mengungkapkan, jika dibandingkan dengan April, inflasi kelompok bahan makanan pada Mei jauh lebih rendah. Sebab bulan ini sudah ada beberapa komoditas bahan makanan yang menga­lami deflasi, seperti gula pasir dan cabe rawit yang turun 0,04 persen, serta bawang merah dan tomat sayur turun 0,01 persen.

"Inflasi makanan bulan ini memang mencapai 0,86 persen. Itu tidak mengagetkan karena kita sudah warning potensi ke­naikan pada sejumlah komoditas pangan," ungkapnya.

Kecuk meramal inflasi bulan depan tetap meningkat. Hal itu terjadi karena ada pening­katan kelompok pengeluaran pangan, sandang, transportasi, dan listrik. "Momentum Lebaran memaksa masyarakat mening­katkan sejumlah permintaan," ungkapnya.

Namun demikian, Kecuk mengaku tidak terlalu kha­watir dengan potensi kenaikan inflasi dari kelompok pangan. Dia yakin, sejumlah kebijakan pemerintah mampu meredam kenaikan harga. Antara lain, ke­bijakan penetapan harga eceran tertinggi (HET) pada komoditas, gula, minyak goreng, dan daging beku. Selain itu, pemerintah me­wajibkan distributor melaporkan ketersediaan pangan sehingga bisa mencegah penimbunan.

Direktur Statistik BPS Harga Yunita Rusanti memastikan kenaikan daging sapi terjadi murni karena ada kenaikan permintaan. Menurutnya, harga masih terjaga dengan baik makanya sumbangan daging sapi terhadap inflasi Mei tidak besar.

"Harga daging sapi terken­dali karena terbantu kebijakan pemerintah menggelontorkan daging beku. Ini cukup berpengaruh terhadap pembetukan harga," ungkap Yunita.

Laju Inflasi Wajar


Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution me­nilai, inflasi Mei sebesar 0,39 persen cukup tinggi. Namun angka tersebut masih terbilang wajar karena masih di bawah 0,4 persen.

Darmin mengungkapkan, re­alisasi inflasi tersebut sejatinya masih dalam kisaran (range) yang cukup untuk mencapai target inflasi tahunan. Namun menurutnya, angkanya sudah mentok dan harus diturunkan.

"0,39 persen ya sedikit tinggi itu, walaupun tidak tinggi sekali, artinya untuk mencapai target di bawah 5 persen masih oke. Memang penyebabnya volatile food, tapi kita harus lihat dulu, sebenarnya komoditasnya apa saja. Jadi masih dalam range yang cukup baik, tapi sudah mu­lai mentok," katanya. ***

  • TAGS

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA