Neraca Perdagangan Triwulan I Naik Berlipat

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 26 April 2017, 02:53 WIB
Neraca Perdagangan Triwulan I Naik Berlipat
Net
rmol news logo Surplus neraca perdagangan Triwulan I 2017 naik berlipat ganda dibandingkan periode yang sama di tahun 2016 lalu.

Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjelaskan, surplus selama Januari-Maret 2017 mencapai USD 3,9 miliar, sedangkan surplus periode Januari-Maret 2016 sebesar USD 1,6 miliar. Surplus dihasilkan dari perdagangan non migas yang meningkat lebih dari 300 persen menjadi USD 6,5 miliar dikurangi defisit perdagangan migas mencapai USD 2,6 miliar.

"Surplus neraca perdagangan selama Triwulan I 2017 mencapai USD 3,9 miliar atau naik lebih dari dua kali lipat dari surplus Januari-Maret tahun lalu," ujarnya dalam keterangan pers, Rabu (26/4).

Menurut Enggar, surplus juga disokong oleh kinerja perdagangan Maret 2017. Neraca perdagangan non migas pada Maret 2017 mengalami surplus USD 2 miliar, sementara neraca perdagangan migas defisit USD 0,8 miliar. Sehingga menyebabkan surplus neraca perdagangan Maret 2017 secara total mencapai USD 1,2 miliar.

Mitra dagang penyumbang surplus perdagangan non migas terbesar selama Januari-Maret 2017 adalah India, Amerika Serikat, Filipina, Belanda, dan Pakistan dengan jumlah mencapai USD 7,5 miliar. Sementara Tiongkok, Thailand, Australia, Korea Selatan, dan Prancis merupakan mitra dagang yang menyebabkan defisit terbesar mencapai USD 5,2 miliar.

Ekspor Maret 2017 Naik 23,6 persen. Ekspor bulan Maret 2017 mencapai USD 14,6 miliar atau naik 23,6 persen dibanding bulan yang sama tahun 2016. Kenaikan ekspor didorong oleh peningkatan ekspor sektor migas dan non migas. Ekspor migas meningkat 19,5 persen menjadi USD 1,5 miliar, sedangkan ekspor non migas naik 24 persen jadi USD 13,1 miliar.

"Penguatan kinerja ekspor bulan Maret memperkuat optimisme pencapaian target ekspor 2017 dapat dilampaui," kata Enggar.

Dengan capaian ekspor bulan Maret, secara kumulatif ekspor selama Triwulan I 2017 mencapai USD 40,6 miliar atau meningkat sebesar 20,8 persen dibanding Triwulan I tahun lalu. Peningkatan ekspor didukung kenaikan ekspor non migas sebesar 21,6 persen dan ekspor migas 14,1 persen. Ekspor bulanan selama Triwulan I 2017 memperlihatkan kinerja yang membaik dibanding tahun-tahun sebelumnya.

"Dibanding Triwulan I 2016, kinerja ekspor Triwulan I 2017 mengalami penguatan signifikan," beber Enggar.

Sementara, di sektor non migas, ekspor ke beberapa negara mitra dagang menunjukkan kinerja yang baik. Ekspor non migas ke Tiongkok, India, dan Belanda naik signifikan dengan pertumbuhan masing-masing sebesar 65,1 persen, 61,0 persen, dan 52,2 persen (year on year).

Produk yang nilai ekspornya naik tinggi antara lain besi dan baja (97,1 persen), karet dan barang dari karet (73,2 persen), bahan kimia organik (67,5 persen), minyak sawit (61,6 persen), batubara (49,6 persen), berbagai produk kimia (46,3 persen), serta kopi, teh dan rempah-rempah (32,8 persen).

"Peningkatan ekspor yang relatif signifikan tersebut menunjukkan mulai membaiknya permintaan terhadap produk ekspor Indonesia di pasar dunia," jelas Enggar.

Untuk impor bulan Maret 2017 naik 18,2 persen mencapai USD 13,5 miliar dibanding builan yang sama tahun lalu. Peningkatan dipicu kenaikan impor migas sebesar 45,7 persen menjadi USD 2,3 miliar dan kenaikan impor non migas 13,8 persen menjadi USD 30,1 miliar. Dengan demikian, impor Januari-Maret 2017 mencapai USD 36,7 miliar atau naik 14,8 persen (year on year).

Kenaikan nilai impor selama tiga bulan pertama tahun 2017 didorong oleh kenaikan impor seluruh jenis barang. Impor bahan baku/penolong naik sebesar 18,1 persen, impor barang modal naik sebesar 6,5 persen, serta barang konsumsi naik sebesar 4,7 persen.

"Kenaikan impor bahan baku/penolong dan barang modal di bulan-bulan pertama tahun ini menunjukkan sinyal positif terjadinya pertumbuhan industri domestik. Sementara itu, kenaikan impor barang konsumsi merupakan antisipasi terhadap permintaan menjelang puasa dan Lebaran," ujar Enggar.

Dia menambahkan, kenaikan impor bahan baku/penolong menjadikan pangsa barang kategori itu semakin dominan, yaitu 75,6 persen terhadap total impor. Di mana, tahun lalu, pangsa bahan baku/penolong sebesar 73,5 persen. Bahan baku/penolong yang impornya naik signifikan antara lain bahan kimia organik (23,3 persen), besi baja (14,6 persen), serta plastik dan barang dari plastik (13,9 persen).

Sedangkan, barang modal yang impornya naik signifikan antara lain mesin/pesawat listrik (10,7 persen), kendaraan bermotor dan bagiannya (16,3 persen). Untuk barang konsumsi yang impornya naik signifikan antara lain daging hewan (105,0 persen) dan sayuran (26,9 persen). [wah]

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA