Di saat laba PGN sepanjang tahun 2016 lalu mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, justru Pertagas malah mengalami kenaikan.
Sebelumnya dalam keterbukaan informasi kepada Bursa Efek Indonesia, Jumat (17/3) lalu, PGN memaparkan penurunan laba tahun buku 2016 dibanding tahun sebelumnya mencapai 24,14 persen. Sebaliknya dengan Pertagas. Anak perusahaan PT Pertamina (Persero) tersebut mencatat kenaikan laba 5,3 persen dibanding tahun sebelumnya.
"Tahun 2016 kami berhasil meningkatkan laba 5,3 persen dari 151 juta dolar AS menjadi 159 juta dolar AS," ujar Direktur Utama PT Pertamina Gas, Toto Nugroho melalui pers rilis yang dikeluarkan seusai RUPS Tahunan tahun buku 2016 di Gedung Oil Centre, kantor pusat Pertagas, Jakarta, pekan lalu.
‎
Stabilnya kinerja operasi, menurut Toto, menjadi alasan utama di balik moncernya laba perusahaan yang dipimpinnya. Sepanjang tahun lalu, misalnya, Pertagas berhasil meningkatkan volume niaga gas, dari 46.425 BBTU (Billion British Thermal Unit) di 2015 menjadi 51.814 BBTU. Peningkatan lain, juga dicatatkan melalui volume regasifikasi LNG dari 25.780 BBTU di 2015 menjadi 29.907 BBTU.
Selain itu, Pertagas juga berhasil mentransportasikan gas sebesar 522,1 BSCF (Billion Standard Cubic Feet) dan memproses gas menjadi LPG sebesar 123.259 ton sepanjang 2016.
"Prestasi ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi seluruh insan Pertagas yang tahun ini baru genap berusia 10 tahun. Apalagi di saat laba perusahaan sejenis cenderung mengalami penurunan," jelas Toto.
Perbedaan antara PGN dan Pertagas dalam mencatatkan peningkatan laba setiap tahunnya ini menarik dicermati. Maklum, kedua perusahaan ini selalu dikait-kaitkan dengan rencana merger paska terbentuknya holding migas di mana PGN akan menjadi anak perusahaan PT Pertamina (Persero‎).
Di sisi PGN, sejak melonjak hingga 890,9 juta dolar AS pada 2012, laba PGN kemudian menurun menjadi 804,5 juta pada 2013 dolar AS.
Laba bersih PGN terus terkikis, sehingga mencapai USD 711,2 pada 2014, USD 401,2 pada 2015, dan kembali anjlok pada 2016 menjadi USD 304,3 juta.
Sekretaris Perusahaan PGN Heri Yusup mengatakan, perolehan laba bersih PGN 304,3 juta dolar AS tersebut diperoleh pihaknya di tengah penurunan harga minyak dan fluktuasi nilai tukar rupiah.
"Kami melakukan berbagai upaya yang diperlukan, sehingga mampu mencetak laba di tengah kondisi perekonomian yang sedang mengalami perlambatan," kata Heri Yusup.
[wid]
BERITA TERKAIT: