"Pembangunan jalan di Provinsi Papua dan Papua Barat tidak semata menghubungkan antar kota/kabupaten untuk membuka keterisolasian. Namun harus dapat menurunkan angka kemahalan," jelas Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dalam Diskusi Media "Visi Pembangunan Indonesia Sentris: Pemerataan di Papua", di Jakarta, Senin, (6/3).
Ia menambahkan bahwa pembangunan jalan Trans Papua dan perbatasan yang menghubungkan pusat-pusat kegiatan ekonomi saat ini sudah memperlihatkan progres yang signifikan. Misalnya, harga bahan pokok dan semen yang masih mahal di Wamena. Untuk itu perlu dibangun jalan dari Mamugu (yang memiliki pelabuhan kecil)- Kenyam - Habema hingga Wamena, termasuk beberapa jembatan yang perlu dibangun.
Nantinya Wamena akan terhubung juga dengan tol laut dan Jalan Trans Papua Wamena - Ilaga - Enarotali - Nabire hingga Wasior yang juga memiliki pelabuhan bongkar muat barang. Dengan adanya jalan yang terhubung ke Wamena dan lokasi-lokasi lain di pedalaman, angkutan logistik tidak lagi harus melalui udara yang akan mengurangi biaya secara keseluruhan.
Basuki mengemukakan bahwa masyarakat sudah mulai merasakan manfaat keberadaan Jalan Trans Papua dan Perbatasan. Meskipun kendaraan yang lewat relatif sedikit, namun penduduk yang sebelumnya berjalan kaki dengan medan yang sulit dan memakan waktu lama,saat ini sudah dapat melintasi jalur yang sama dengan lebih mudah dan cepat.
Lebih lanjut, ia mengatakan dari 4.300 Km jalan Trans Papua, saat ini sudah terhubung sepanjang 3.850 km dan ditargetkan tahun 2018 sudah tersambung semua ruasnya. Sedangkan untuk jalan perbatasan, dari 1.068 km jalan perbatasan, 884 km diantaranya juga sudah terhubung dan ditargetkan pada tahun depan keseluruhannya dapat terhubung.
Pada ruas jalan yang sudah ada ini, digunakan juga untuk pemasangan jaringan fibre optic oleh Kementerian komunikasi dan Informatika.
[zul]
BERITA TERKAIT: