Darmin: Nilai Jual Ekspor Hasil Kebun Rendah

Tak Dikelola Secara Profesional

Jumat, 03 Maret 2017, 10:25 WIB
Darmin: Nilai Jual Ekspor Hasil Kebun Rendah
Darmin Nasution/Net
rmol news logo Menko Perekonomian Darmin Nasution mengung­kapkan, Indonesia meng­hadapi tantangan besar di sektor perkebunan.

"Kita sejak merdeka be­lum berhasil membangun satu mekanisme dan sinergi antara perkebunan dengan perekonomian. Makanya perkebunan kita nggak maju," ujar Darmin di kan­tornya, Jakarta, kemarin.

Darmin menilai, stan­dar perkebunan Indonesia masih rendah. Perkebunan belum dikelola secara pro­fesional, masih bersifat kebun rakyat.

Dia melihat, saat ini salah satu kendala yang dihadapi perkebunan Indonesia, tana­man sudah banyak yang tua sehingga produktivitasnya terus menurun. Dengan kon­disi seperti itu, produksi sulit dikerek dalam waktu cepat karena perkebunan merupa­kan tanaman jangka panjang yang memerlukan waktu cukup lama untuk menuai hasil panen.

"Tantangan terbesar saat ini bagaimana kita melaku­kan peremajaan," katanya.

Darmin mengatakan, pemerintah akan segera mengambil peranan dalam melakukan peremajaan. Peremajaan akan dilakukan secara bertahap karena ang­garan pemerintah terbatas.

"Artinya separuh dulu. Separuh kebun masing-masing, tapi bibitnya harus yang betul, supaya produk­tivitas meningkat 2-3 kali lipat. Karena kalau separuh diremajakan, berarti nanti anda akan hasilkan jumlah yang sama dengan lahan sama. Di sini peran pemer­intah jadi besar," ucapnya.

Darmin mengaku, pemer­intah sudah lama memiliki rencana tersebut. Hanya saja, selalu tertunda kar­ena ada kendala politik dan keamanan. "Kita betul-betul ingin menyelesaikan perso­alan itu. Karena ini sudah terlambat jauh sekali. Ka­lau ditelusuri ke belakang, sejak tahun 1990-an (tidak melakukan pengemban­gan)," ungkapnya.

Darmin meminta dukun­gan petani. Menurutnya, petani harus lebih kreatif dalam melakukan pemasa­ran. Karena, selama ini Indonesia masih melakukan ekspor hasil kebun tanpa diolah sehingga nilai jual­nya rendah.

Dia menyebut beberapa sub sektor perkebunan, sep­erti kelapa sawit dan karet sudah mulai membaik.

"Beberapa komoditi perkebunan yang sangat di-drive oleh konsumsi tidak mengalami penurunan. Bi­asanya jenis perkebunan yang merupakan bahan mentah untuk industri se­cara umum bukan pangan," katanya.

Namun bekalangan ini, lanjutnya, dengan kondisi iklim yang buruk mem­buat biaya produksi mel­onjak. Hal itu kemudian berdampak pada turunnya produksi dan produktivitas tanaman perkebunan.

Menurut Darmin, bila situasi tersebut tidak segera diatasi, bisnis perkebunan nasional bisa semakin be­rat. Sebab itu, pemerintah harus fokus mengoptimal­kan produktivitas, efisiensi, dan nilai tambah komodi­tas perkebunan. Caranya, dengan mengembangkan riset untuk menghasilkan teknologi dan inovasi yang mendukung.

Sejauh ini, teknologi yang bisa dimanfaatkan sektor perkebunan masih terba­tas. Demikian juga dengan pembiayaan, pasar, sarana prasarana, serta kemam­puan Sumber Daya Manusia (SDM). Keterbatasan ini kemudian dimanfaatkan negara tetangga.

Darmin mencontohkan ko­moditas kayu manis. Seban­yak 70 persen pasokan kayu manis berasal dari Indonesia. Kayu manis ini diproduksi di Kerinci, Jambi, dan kemu­dian diekspor ke Singapura dengan harga murah. Di Sin­gapura, kayu manis tersebut dipilah dan distandardisasi sehingga harganya mening­kat menjadi tiga kali lipat.

Standardisasi semacam inilah yang ingin dia dorong agar petani kebun bisa men­ingkatkan pendapatan. "Kayu manis dijemur biasa. Tapi di Singapura setelah dia buat standar dan merek, harga naik tiga kali lipat dari yang Indo­nesia jual," katanya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA