Selain bersinergi dengan PLN, DEN juga berharap ada dukungan penuh dari pemerintah melancarÂkan proyek listrik milik swasta. Seperti diketahui, pada awal pencanangan, sekitar 80 persen proyek pembangkit 35.000 MW akan dibiayai anggaran negara. Namun saat ini lebih dari 60 persen proyek 35.000 MW beÂrasal dari swasta.
Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Syamsir Abduh, menyamÂpaikan target pembangkit listrik sesuai Peraturan Presiden (PP) Nomor 79 Tahun 2011 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) di antaranya terpenuhinya kapasitas pembangkit listrik pada Tahun 2025 sebesar 115.000 MW dan pada tahun 2030 sebesar 430.000 MW.
Syamsir menekankan, secara eksplisit program kelistrikan 35.000 MW tidak disebutkan dalam KEN. "Kebijakan nasional harus terintegrasi. Tugas IPP kan membangun pembangkit, tapi kalau transmisinya belum selesai, bagaimana? Itu menjadi tangÂgung jawab pemerintah dan PLN.
Leadership commitment sangat perlu," tandas Syamsir, dalam diskusi Kelistrikan di Jakarta.
Kerja Sama KetenagalistrikanDitempat terpisah, PT SaratoÂga Investama Sedaya Tbk. (SaraÂtoga) mengajak pelaku industri dan seluruh stakeholder khususÂnya pelaku industri untuk ikut andil meningkatkan tenaga kerja terampil di sektor pembangkit tenaga listrik. Hal itu dilakukan untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan program listrik 35.000 Megawatt.
"Saratoga mendukung penuh Yayasan Ora et Labora dalam mendirikan SMK program teknik ketenagalistrikan yang khusus di bidang pembangkit tenaga listrik. Kemitraan dengan perusahaan lain di sektor pembangkit tenaga listrik akan lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelaku industri," kata Direktur PT Saratoga Investama Sedaya Tbk Jerry Ngo.
Dilanjutkannya, Saratoga berÂperan aktif dalam menciptakan kurikulum dan pemantauan prosÂes pembelajaran di SMK Teknik Ketenagalistrikan Ora et Labora untuk memastikan program yang dijalankan dan lulusan-lulusannya sesuai dengan kebutuhan sektor pembangkit tenaga listrik.
Jerry menambahkan, melalui standar dan kualitas tenaga pengaÂjar dan kurikulum yang dijalankan, diharapkan SMK ini akan menjadi salah satu sekolah yang diperhiÂtungkan dan memberikan kontriÂbusi positif bagi masyarakat.
Ketua Yayasan Ora et LabÂora Sandi Rahaju menjelaskan pendirian SMK Program Teknik Ketenagalistrikan Ora et Labora ini merupakan langkah penting untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas di sektor ketenagalistrikan khususÂnya keahlian pembangkit tenaga listrik (
power plant).
"Kami bersyukur SMK ProÂgram Teknik Ketenagalistrikan hasil kerjasama antara Yayasan Ora et Labora dan Saratoga ini akan segera terwujud. SMK ini akan terbuka untuk umum dan semoga dapat menjadi bagian dari solusi pemerintah dalam memperkuat sektor kelistrikan di Indonesia," ujar Sandi.
Ketua Umum Asosiasi PemÂbangkit Tenaga Listrik Swasta Indonesia Ali Herman Ibrahim mendukung langkah tersebut. Ali merasakan adanya kesenjangan antara keinginan industri dengan ketersediaan sumber daya manusia.
"Contohnya, Tahun 2006, di mana pembangkit Tanjung Jati, Rembang harus melakukan
outsource karena ketersediaan operator PT PLN saat itu tidak memadai. Sedangkan, pemÂbangkit harus segera beroperasi. Sehingga sekolah ini penting sekali guna menutupi jarak tersebut," jelasnya. ***
BERITA TERKAIT: