Dewan Energi Nasional Desak PLN Gandeng Produsen Listrik Swasta

Kejar Target Pengadaan Pembangkit 35 Ribu MW

Jumat, 03 Maret 2017, 10:06 WIB
Dewan Energi Nasional Desak PLN Gandeng Produsen Listrik Swasta
Foto/Net
rmol news logo Dewan Energi Nasional (DEN) mengimbau agar PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melakukan sinergi dengan perusahaan pro­dusen listrik swasta atau Indepen­dent Power Producer (IPP). Im­bauan ini harus dipertimbangkan agar megaproyek pembangkit lis­trik 35.000 megawatt (MW) bisa beroperasi pada Tahun 2019.

Selain bersinergi dengan PLN, DEN juga berharap ada dukungan penuh dari pemerintah melancar­kan proyek listrik milik swasta. Seperti diketahui, pada awal pencanangan, sekitar 80 persen proyek pembangkit 35.000 MW akan dibiayai anggaran negara. Namun saat ini lebih dari 60 persen proyek 35.000 MW be­rasal dari swasta.

Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) Syamsir Abduh, menyam­paikan target pembangkit listrik sesuai Peraturan Presiden (PP) Nomor 79 Tahun 2011 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) di antaranya terpenuhinya kapasitas pembangkit listrik pada Tahun 2025 sebesar 115.000 MW dan pada tahun 2030 sebesar 430.000 MW.

Syamsir menekankan, secara eksplisit program kelistrikan 35.000 MW tidak disebutkan dalam KEN. "Kebijakan nasional harus terintegrasi. Tugas IPP kan membangun pembangkit, tapi kalau transmisinya belum selesai, bagaimana? Itu menjadi tang­gung jawab pemerintah dan PLN. Leadership commitment sangat perlu," tandas Syamsir, dalam diskusi Kelistrikan di Jakarta.

Kerja Sama Ketenagalistrikan

Ditempat terpisah, PT Sarato­ga Investama Sedaya Tbk. (Sara­toga) mengajak pelaku industri dan seluruh stakeholder khusus­nya pelaku industri untuk ikut andil meningkatkan tenaga kerja terampil di sektor pembangkit tenaga listrik. Hal itu dilakukan untuk mendukung pemerintah dalam mewujudkan program listrik 35.000 Megawatt.

"Saratoga mendukung penuh Yayasan Ora et Labora dalam mendirikan SMK program teknik ketenagalistrikan yang khusus di bidang pembangkit tenaga listrik. Kemitraan dengan perusahaan lain di sektor pembangkit tenaga listrik akan lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelaku industri," kata Direktur PT Saratoga Investama Sedaya Tbk Jerry Ngo.

Dilanjutkannya, Saratoga ber­peran aktif dalam menciptakan kurikulum dan pemantauan pros­es pembelajaran di SMK Teknik Ketenagalistrikan Ora et Labora untuk memastikan program yang dijalankan dan lulusan-lulusannya sesuai dengan kebutuhan sektor pembangkit tenaga listrik.

Jerry menambahkan, melalui standar dan kualitas tenaga penga­jar dan kurikulum yang dijalankan, diharapkan SMK ini akan menjadi salah satu sekolah yang diperhi­tungkan dan memberikan kontri­busi positif bagi masyarakat.

Ketua Yayasan Ora et Lab­ora Sandi Rahaju menjelaskan pendirian SMK Program Teknik Ketenagalistrikan Ora et Labora ini merupakan langkah penting untuk menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas di sektor ketenagalistrikan khusus­nya keahlian pembangkit tenaga listrik (power plant).

"Kami bersyukur SMK Pro­gram Teknik Ketenagalistrikan hasil kerjasama antara Yayasan Ora et Labora dan Saratoga ini akan segera terwujud. SMK ini akan terbuka untuk umum dan semoga dapat menjadi bagian dari solusi pemerintah dalam memperkuat sektor kelistrikan di Indonesia," ujar Sandi.

Ketua Umum Asosiasi Pem­bangkit Tenaga Listrik Swasta Indonesia Ali Herman Ibrahim mendukung langkah tersebut. Ali merasakan adanya kesenjangan antara keinginan industri dengan ketersediaan sumber daya manusia.

"Contohnya, Tahun 2006, di mana pembangkit Tanjung Jati, Rembang harus melakukan outsource karena ketersediaan operator PT PLN saat itu tidak memadai. Sedangkan, pem­bangkit harus segera beroperasi. Sehingga sekolah ini penting sekali guna menutupi jarak tersebut," jelasnya. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA