Roberto Hutabarat, Koordinator Jaringan Don’t Gas Indonesia (DGI) menyerukan penghentian seluruh rencana pembangunan infrastruktur LNG di Bali, termasuk terminal LNG terapung (FSRU) Sidakarya, jaringan pipa gas, hingga pembangkit listrik tenaga gas dan uap (PLTGU) baru.
Menurut Roberto, pembangunan infrastruktur tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap ekosistem laut Bali yang merupakan bagian dari kawasan Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle), salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati laut terkaya di dunia.
“Hari Laut Sedunia dan Hari Segitiga Terumbu Karang mengingatkan kita bahwa kekayaan terbesar Bali bukanlah infrastruktur LNG, melainkan lautnya, terumbu karangnya, dan komunitas-komunitas yang menjaganya,” ujar Roberto di Renon, Bali, Selasa 9 Juni 2026.
Roberto menilai narasi dari pemerintah yang menyebut LNG sebagai bahan bakar transisi yang bersih merupakan klaim yang menyesatkan.
Katanya, LNG tetap merupakan bahan bakar fosil yang berkontribusi terhadap perubahan iklim melalui kebocoran metana, emisi gas rumah kaca, kerusakan ekosistem, serta ketergantungan jangka panjang pada sistem energi berbasis bahan bakar fosil.
"Pengalaman pembangunan infrastruktur LNG di Cilamaya, Karawang, Jawa Barat, berdampak pada aktivitas nelayan akibat perubahan ekosistem pesisir dan meningkatnya aktivitas industri di kawasan itu," demikian Roberto.

*
Kontributor Bali
BERITA TERKAIT: