Stasiun Kereta Bandara Soetta Ditargetkan Kelar Maret 2017

Bisa Tampung 3.500 Penumpang

Kamis, 02 Maret 2017, 08:11 WIB
Stasiun Kereta Bandara Soetta Ditargetkan Kelar Maret 2017
Foto/Net
rmol news logo Proyek stasiun kereta Bandara Internasional Soekarno Hatta (Soetta) di Tangerang, Banten, sudah mencapai 85 persen. PT Angkasa Pura (AP) II Persero selaku pengelola Bandara Soetta optimistis, pengerjaan proyek tersebut rampung pada akhir Maret 2017.

Saat beroperasi nanti, proyek stasiun dengan investasi sekitar Rp 160 miliar itu bisa menam­pung hingga 3.500 penumpang, terdiri dari kapasitas peron sebanyak 2.000 penumpang dan kapasitas daya tampung di bangunan sebanyak 1.500 penumpang.

President Director PT Ang­kasa Pura II (Persero) Muham­mad Awaluddin mengatakan, stasiun kereta tersebut didesain untuk terkoneksi dengan sta­siun Skytrain, sehingga bagi penumpang pesawat atau pen­gunjung yang tiba di bandara dengan kereta dapat langsung memilih Skytrain sebagai moda transportasi menuju Terminal 1, 2, atau 3.

"Target kita selesai pada Maret 2017 atau bersamaan dengan selesainya pembangunan stasiun Skytrain. Operasional kereta ini cukup penting guna mendukung konektivitas trans­portasi dari Jakarta menuju bandara atau sebaliknya dan akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang mence­gah kepadatan lalu lintas," kata Awaluddin di Jakarta.

Dilanjutkannya, proyek kereta bandara ini akan dioperasikan oleh PT Railink yang merupakan anak usaha dari PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Kereta Api Indonesia. Rencananya, kereta bandara mulai beroperasi pada Juli 2017 dengan enam kereta berkapasitas 272 penumpang atau dalam 1 hari dapat melayani sebanyak 35.000 penumpang. Total trek dari kereta bandara ini sejauh 36,3 km.

Awaluddin menyebut, sejum­lah fasilitas yang tersedia di sta­siun kereta bandara antara lain ticketing counter, public hall, tapping gate in, waiting lounge, commercial area, toilet, musala, station headroom, konektivitas ke integrated building serta sta­siun Skytrain, dan sebagainya.

"Dengan beroperasinya kereta bandara, mobilitas penumpang pesawat atau pengunjung ban­dara dari Stasiun Manggarai di Jakarta ke Bandara Soetta atau sebaliknya akan lebih mudah, nyaman, dan cepat. Karena waktu tempuh hanya sekitar 45 menit," jelas Muhammad Awaluddin.

Selain kereta bandara, nantinya Bandara Soetta juga akan dileng­kapi Automated People Mover System (APMS) yang dapat memudahkan penumpang dan wisatawan saat tiba di Bandara.

Teknologi ini berupa trans­portasi antar terminal berba­sis kereta tanpa pengemudi atau yang lebih dikenal dengan Skytrain. Moda transportasi ini sudah dioperasikan di negara tet­angga seperti Bandara Changi, Singapura.

Awaluddin menyebut, Skytrain akan beroperasi pada Juni 2017, dimulai dengan 1 trainset yang terdiri dari 2 kereta berkapasitas total dapat menampung 176 orang untuk perpindahan pen­umpang pesawat atau pengun­jung bandara dari Terminal 2 ke Terminal 3 maupun sebaliknya.

Nantinya saat sudah berop­erasi penuh pada Agustus 2017, Skytrain akan hadir dalam 3 trainset berkapasitas total 528 orang yang menghubungkan Terminal 1, Terminal 2, Terminal 3, dan integrated building.

"Seluruh fasilitas ini akan men­dukung pelayanan di Bandara Soetta yang saat ini melayani penerbangan sekitar 150.000 penumpang," tegas Awaluddin.

Jalan Tol Kian Padat

Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai, pengerjaan proyek kereta bandara sudah sewajarnya dipercepat mengingat pemerintah melalui Angkasa Pura II juga telah mengoperasikan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.

"Kapasitas penumpang yang memakai jasa penerbangan ke depan bakal bertambah. Otomatis perlu di-support dengan pilihan moda transportasi selain kend­araan pribadi, taxi dan bus," kata Djoko kepada Rakyat Merdeka.

Keberadaan KA bandara terse­but diharapkan dapat menjadi moda transportasi alternatif bagi pengguna jasa penerbangan, mengingat akses menuju bandara melalui jalan tol kian padat.

"Memang harus ajak instansi lain yang berdekatan dan bersentuhan dengan hal ini. Karena memberikan transportasi yang layak dan mumpuni bagi masyarakat merupakan PR (pekerjaan rumah) yang cukup berat," tandas Djoko.

Menurutnya, hampir semua bandara internasional di dunia sudah pasti terhubung dengan jalur rel kereta untuk memu­dahkan mobilitas penggunanya menuju pusat kota. Sekaligus, merupakan kebutuhan dan pi­lihan alternatif moda bertrans­portasi.

"Hanya bandara di Indonesia saja yang tidak pernah memikir­kan ada akses jalan rel menuju bandara. Baru ada di bandara Kualanamu Medan saja dan Yogyakarta yang sudah berop­erasi," katanya.

Selain Bandara Soetta, ia juga mengimbau agar pemerintah membangun jalur rel kereta bandara yang dapat terhubung dengan terminal bandara inter­nasional Ahmad Yani, Semarang. Serta beberapa bandara lainnya seperti Bandara Internasional Minangkabau di Padang (status menunggu operasional), Ban­dara Internasional Juanda di Surabaya, Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin, Bandara Internasional Sultan Mahmud Baddarudin II di Palembang. Hal ini sesuai dengan RIPNAS (Rencana Induk Perkeretaapian Nasional) 2011-2030 yang me­rencanakan adanya akses jalan rel ke bandara. ***

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari Kantor Berita Politik RMOL di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA