Saat beroperasi nanti, proyek stasiun dengan investasi sekitar Rp 160 miliar itu bisa menamÂpung hingga 3.500 penumpang, terdiri dari kapasitas peron sebanyak 2.000 penumpang dan kapasitas daya tampung di bangunan sebanyak 1.500 penumpang.
President Director PT AngÂkasa Pura II (Persero) MuhamÂmad Awaluddin mengatakan, stasiun kereta tersebut didesain untuk terkoneksi dengan staÂsiun Skytrain, sehingga bagi penumpang pesawat atau penÂgunjung yang tiba di bandara dengan kereta dapat langsung memilih Skytrain sebagai moda transportasi menuju Terminal 1, 2, atau 3.
"Target kita selesai pada Maret 2017 atau bersamaan dengan selesainya pembangunan stasiun Skytrain. Operasional kereta ini cukup penting guna mendukung konektivitas transÂportasi dari Jakarta menuju bandara atau sebaliknya dan akan mengurangi penggunaan kendaraan pribadi yang menceÂgah kepadatan lalu lintas," kata Awaluddin di Jakarta.
Dilanjutkannya, proyek kereta bandara ini akan dioperasikan oleh PT Railink yang merupakan anak usaha dari PT Angkasa Pura II (Persero) dan PT Kereta Api Indonesia. Rencananya, kereta bandara mulai beroperasi pada Juli 2017 dengan enam kereta berkapasitas 272 penumpang atau dalam 1 hari dapat melayani sebanyak 35.000 penumpang. Total trek dari kereta bandara ini sejauh 36,3 km.
Awaluddin menyebut, sejumÂlah fasilitas yang tersedia di staÂsiun kereta bandara antara lain
ticketing counter, public hall, tapping gate in, waiting lounge, commercial area, toilet, musala, station headroom, konektivitas ke
integrated building serta staÂsiun Skytrain, dan sebagainya.
"Dengan beroperasinya kereta bandara, mobilitas penumpang pesawat atau pengunjung banÂdara dari Stasiun Manggarai di Jakarta ke Bandara Soetta atau sebaliknya akan lebih mudah, nyaman, dan cepat. Karena waktu tempuh hanya sekitar 45 menit," jelas Muhammad Awaluddin.
Selain kereta bandara, nantinya Bandara Soetta juga akan dilengÂkapi
Automated People Mover System (APMS) yang dapat memudahkan penumpang dan wisatawan saat tiba di Bandara.
Teknologi ini berupa transÂportasi antar terminal berbaÂsis kereta tanpa pengemudi atau yang lebih dikenal dengan Skytrain. Moda transportasi ini sudah dioperasikan di negara tetÂangga seperti Bandara Changi, Singapura.
Awaluddin menyebut, Skytrain akan beroperasi pada Juni 2017, dimulai dengan 1 trainset yang terdiri dari 2 kereta berkapasitas total dapat menampung 176 orang untuk perpindahan penÂumpang pesawat atau pengunÂjung bandara dari Terminal 2 ke Terminal 3 maupun sebaliknya.
Nantinya saat sudah beropÂerasi penuh pada Agustus 2017, Skytrain akan hadir dalam 3 trainset berkapasitas total 528 orang yang menghubungkan Terminal 1, Terminal 2, Terminal 3, dan integrated building.
"Seluruh fasilitas ini akan menÂdukung pelayanan di Bandara Soetta yang saat ini melayani penerbangan sekitar 150.000 penumpang," tegas Awaluddin.
Jalan Tol Kian Padat
Pengamat dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setijowarno menilai, pengerjaan proyek kereta bandara sudah sewajarnya dipercepat mengingat pemerintah melalui Angkasa Pura II juga telah mengoperasikan Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta.
"Kapasitas penumpang yang memakai jasa penerbangan ke depan bakal bertambah. Otomatis perlu di-support dengan pilihan moda transportasi selain kendÂaraan pribadi, taxi dan bus," kata Djoko kepada
Rakyat Merdeka.Keberadaan KA bandara terseÂbut diharapkan dapat menjadi moda transportasi alternatif bagi pengguna jasa penerbangan, mengingat akses menuju bandara melalui jalan tol kian padat.
"Memang harus ajak instansi lain yang berdekatan dan bersentuhan dengan hal ini. Karena memberikan transportasi yang layak dan mumpuni bagi masyarakat merupakan PR (pekerjaan rumah) yang cukup berat," tandas Djoko.
Menurutnya, hampir semua bandara internasional di dunia sudah pasti terhubung dengan jalur rel kereta untuk memuÂdahkan mobilitas penggunanya menuju pusat kota. Sekaligus, merupakan kebutuhan dan piÂlihan alternatif moda bertransÂportasi.
"Hanya bandara di Indonesia saja yang tidak pernah memikirÂkan ada akses jalan rel menuju bandara. Baru ada di bandara Kualanamu Medan saja dan Yogyakarta yang sudah beropÂerasi," katanya.
Selain Bandara Soetta, ia juga mengimbau agar pemerintah membangun jalur rel kereta bandara yang dapat terhubung dengan terminal bandara interÂnasional Ahmad Yani, Semarang. Serta beberapa bandara lainnya seperti Bandara Internasional Minangkabau di Padang (status menunggu operasional), BanÂdara Internasional Juanda di Surabaya, Bandara Syamsudin Noor di Banjarmasin, Bandara Internasional Sultan Mahmud Baddarudin II di Palembang. Hal ini sesuai dengan RIPNAS (Rencana Induk Perkeretaapian Nasional) 2011-2030 yang meÂrencanakan adanya akses jalan rel ke bandara. ***
BERITA TERKAIT: