Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas Bambang Brodjonegoro menilai, keÂberadaan industri pupuk sudah cukup memadai.
"Selama ini setiap pengembangan lapangan gas bumi selalu diikuti denÂgan pembangunan industri pupuk. Di Aceh, pengemÂbangan lapangan gas diikuti industri pupuk Iskandar Muda. Dan, di Bontang, diikuti industri Pupuk Kaltim," ungkap Bambang di Jakarta, Jumat (24/02).
Menurut Bambang, jika pengembangan lapangan gas di Blok Masela juga diikuti pembangunan inÂdustri pupuk, maka akan membuat komoditas terseÂbut kelebihan suplai. SeÂhingga, akan menurunkan nilai ekonomi pupuk.
"Indonesia belum memÂpunyai roadmap menjual ekspor produk pupuk. PerÂtanyaannya, kalau produksi pupuk tinggi, mau dijual keÂmana? Jangan seolah-olah kalau ada pengembangan gas harus dibangun industri pupuk," imbuhnya.
Bambang meyakinkan pembangunan industri petrokimia sangat tepat. Impor petrokimia saat ini sangat besar sehingga cukup menggerus devisa negara.
Selain itu, Bambang menerangkan, pembangunan industri petrokimia merupaÂkan bagian strategi pengemÂbangan industri nasional. Keberadaan industri ini diproyeksi bisa mendorong pengembangan industri turunannya seperti industri plastik dan industri tekstil.
"Botol banyak yang dibikin dari plastik. Dan, itu bakan baku dari turunannya petrokimia. Baju yang kita pakai ini benangnya ada yang dari kapas, dan fiber, dan itu turunan petrokimia. Jadi ini industri dasar dan menjadi kebutuhan. Ini industri yang harus ada di situ," katanya.
Menko Perekonomian Darmin Nasution berharap, kedatangan Raja Arab Saudi Salman bin Abdul Aziz ke Tanah Air dapat membantu mempercepat pengembangan industri petrokomiÂkimia. Menurutnya, Salman sempat menyampaikan ketertarikannya investasi pada industri petrokimia.
"Peluang investasi Arab Saudi di sektor fasilitas industri pengolah minyak mentah dan petrokimia InÂdonesia sangat terbuka lebar karena pemerintah memang tengah memprioritaskanÂnya," imbuhnya. ***
BERITA TERKAIT: