Proyek konstruksi yang meliÂbatkan empat konsorsium Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan China Railway International Co. Ltd tersebut mangkrak hamÂpir satu tahun setelah di-groundÂbreaking Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada awal 2016.
Direktur Utama PT KCIC Hanggoro Budi mengatakan, tahap awal konstruksi dikerjakan untuk 26 kilometer (km) pertama yang dimulai dari Walini, KabuÂpaten Bandung Barat (KBB).
"Pengerjaan konstruksi akhÂirnya bisa terealisasi karena pembebasan lahan yang sudah mencapai 60 persen dari total keseluruhan dibutuhkan," kata Hanggoro di Jakarta.
Saat ini, tanah yang sudah dibebaskan KCIC tersebar mulai dari Purwakarta hingga Bandung Barat. Koordinasi dengan TNI Angkatan Udara juga sudah dilakukan terkait penempatan stasiun keberangkatan kereta cepat di Halim, Jakarta Timur.
Sambil pembangunan fisik berjalan, sambung Anggoro, pihaknya juga melanjutkan penyelesaian pengadaan tanah yang rencananya menggunakan Undang-Undang Nomor 2012 tentang Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum.
Terkait rencana pembangunan stasiun kereta di komplek TrikoÂra Lanud Halim Pedanakusuma, KCIC dan TNI AU telah menanÂdatangani pernyataan bersama.
Penandatanganan ini dilakukan oleh Asisten Logistik (Aslog) Kasau Marsekal Muda (Marsda) TNI Yadi Husyadi dan Komisaris PT KCIC Antonius Kosasih, yang disaksikan Kepala Staf TNI AU (Kasau) Marsekal TNI Hadi Tjahjanto dan Staf Ahli Menteri BUMN Sahal Lumban Gaol, di Mabesau, Cilangkap, Jakarta, Jumat (24/2).
Kasau Marsekal TNI Hadi Tjahjanto mengatakan, PangliÂma TNI menyerahkan aset tanah dan bangunan milik kementeÂrian Pertahanan/ TNI AU yang ada di komplek Trikora Halim Perdanakusuma, Jakarta untuk dipergunakan sebagai trase jalur, stasiun. Nantinya sarana dan prasarana pendukung sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
"Pembangunan stasiun dan trase kereta api cepat merupaÂkan program pemerintah yang harus kita dukung, dalam rangka meningkatkan pelayanan transÂportasi untuk masyarakat guna meningkatkan perekonomian sepanjang rute Jakarta-BandÂung," kata Kasau.
Ditambahkannya, TNI AU suÂdah menyiapkan kebutuhan tanah untuk pembangunan stasiun kereÂta api cepat seluas 18,6 hektare di kompleks Trikora Halim.
Saat ini di atas tanah tersebut terdapat perumahan dinas dan mess prajurit serta fasilitas sosial lainnya. Oleh karena itu, KaÂsau menegaskan, agar sebelum proses pembangunan stasiun kereta api cepat, terlebih dahulu pihak KCIC membangun rumah dinas, mess prajurit serta fasiliÂtas pendukung lainya sebagai pengganti di lahan yang sudah disiapkan di Halim PerdanÂakusuma, Jakarta.
"Nanti KCIC akan membanÂgunkan rumah dinas yang lebih luas dengan fasilitas pendukungÂnya untuk warga komplek yang terkena dampak pembangunan dari Kereta Api Cepat Jakarta-Bandung," tegas Kasau.
Terlalu Dipaksakan Pengamat kebijakan publik Agus Pambagyo menilai, proyek kereta cepat yang terlalu dipakÂsakan membuat pelaksanaannya tidak maksimal.
"Studi pembangunannya hanya memakan waktu tiga bulan, ini tak masuk akal untuk pembangunan proyek besar tersebut. Makanya, sampai saat ini pelaksanaannya belum terliÂhat," kata Agus kepada
Rakyat Merdeka.
Selain itu, ia menilai dari sisi fungsional, kecepatan kereta yang dicapai tidak sebanding dengan manfaat yang didapat.
"Kalau menghabiskan investasi puluhan triliun di wilayah Jawa jelas tidak sesuai visi Nawacita. Mending bangun infrastruktur di kawasan timur Indonesia, atau jalur kereta di Kalimantan, efek ekonominya lebih besar," tegas Agus.
Proyek kereta cepat dibangun konsorsium gabungan antara PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI) dan China Railway InterÂnational Co. Ltd, yaitu PT KCIC.
Kepemilikan saham KCIC yaitu 40 persen dimiliki oleh China Railway International Co. Ltd., sementara 60 persen dimiliki PSBI yang merupakan gabungan dari PT Wijaya Karya Persero dengan komposisi peÂnyertaan saham 38 persen, PT Kereta Api Indonesia Persero dengan saham 25 persen, PT Perkebunan Nusantara VIII dengan porsi saham 25 persen, dan PT Jasa Marga dengan porsi saham12 persen. ***
BERITA TERKAIT: