Itulah yang sekarang diniatkan oleh Ketua Yayasan Sentra Jamu Indonesia, Sofjan Hidajat.
"Saya punya ide mau buka Kafe Jamu yang di pinggir jalan-jalan supaya mengangkat derajat jamu," kata Sofjan di Sentra Jamu Indonesia, Jakarta Barat.
Menurut dia, Sentra Jamu Indonesia digagas untuk membentuk komunitas pencinta jamu dan bisa mengembangkan jamu sebagai warisan budaya para leluhur.
Menurut dia, ada dua persoalan yang dihadapi saat ini. Pertama, keberadaan jamu yang menghadapi tantangan perkembangan zaman modern. Kemudian, bagaimana membuat sosialisasi agar masyarakat terlibat dan merasa memiliki warisan peradaban ini.
"Karena sangat mengkhawatirkan lama-lama jamu jadi hilang, kemarin saat mudik ke Cirebon biasanya di pinggir jalan banyak tukang jamu, tapi sekarang bakso dan lainnya," ujarnya.
Sofjan mengatakan, konsep berdirinya Kafe Jamu akan sangat mudah. Jika ada masyarakat yang hanya punya tempat dengan satu meja pun sudah bisa membuka Kafe Jamu. Sebutan "Kafe" digunakan untuk menciptakan kesan mewah agar citra jamu menjadi baik.
"Kita buat supaya jamu ini menjadi menarik dan lebih menonjol sehingga orang banyak yang mau jual jamu. Lalu kita kasih contoh cara membuat supaya jamu tidak pakai telor tapi jamunya sudah enak unsur kesehatannya sama dan khasiatnya sama," jelas dia.
Di samping itu, saat ini sudah banyak masyarakat dari berbagai daerah yang siap menjadi pionir untuk membesarkan jamu sebagai produk Indonesia sehingga tidak diklaim oleh negara asing, apalagi Indonesia saat ini sudah memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Sentra Jamu Indonesia harus terus mengembangkan keberadaan herbal di Indonesia melalui penelitian, standarisasi, pengembangan dan kegunaan langsung untuk masyarakat.
"Menurut saya banyak masyarakat yang minat membuat Kafe Jamu karena ini pekerjaan yang bisa dijalani oleh mereka, cara kerja gampang, saya kasih pedoman atau slide untuk mereka pasang di tempat kerja mereka," katanya.
Sentra Jamu Indonesia baru diresmikan pada Rabu 10 Agustus 2016. Letaknya di Jalan Arteri Kelapa Dua Nomor 27, Kebon Jeruk, Jakarta Barat atau Grha Muncul Mekar.
"Saya mau mengangkat derajat jamu, jangan sampai jamu dikuasai bangsa asing. Jadi kita debat di sini soal jamu, budaya dan lainnya. Kalau bisa ada peringatan hari jamu, bahkan mendunia di internasional," pungkasnya.
[ald]
BERITA TERKAIT: