Support Tol Laut, Menko Rizal Gagas Jembatan Udara

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Senin, 30 Mei 2016, 17:26 WIB
<i>Support</i> Tol Laut, Menko Rizal Gagas Jembatan Udara
rizal ramli/net
rmol news logo Program tol laut pemerintah saat ini telah memberikan dampak positif terhadap distribusi komoditas di Indonesia, terutama di Indonesia Bagian Timur. Namun meskipun begitu, harga barang-barang di daerah pedalaman dan pegunungan tetap saja mahal. Pasalnya, di wilayah pedalaman dan pegunungan harga tetap tinggi karena belum memiliki transportasi yang memadai.

Menko Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli mengatakan, untuk membuat kebijakan merancang konsep Jembatan Udara Logistik untuk mengimbangi tol laut.

"Tol laut berhasil menurunkan kebutuhan pokok di Indonesia Timur, tapi untuk mencapai ke pegunungan misalnya Papua perlu jembatan udara logistic. (Jembatan Udara) ini akan dirancang, memang kita perlu mensubsidi (barang komoditas) supaya harganya turun,” kata dia di Jakarta, Senin (30/5).

Deputi III Bidang Koordinasi dan Infrastruktur Kemenko Maritim dan SD, Ridwan Djamaludin yang ditugaskan oleh Menko Rizal guna merancang jembatan udara logistic menjelaskan memang sangat dibutuhkan Jembatan Udara, agar pasokan komoditas ke Papua dan wilayah Timur lainnya bisa mudah sehingga harga bisa ditekan. Menurutnya, harga semen di Puncak Jaya mencapai 1 juta, sedangkan di Jakarta hanya 65 juta rupiah.

"Di Sorong kita pernah coba angkut barang pakai Hercules dari Angkatan Udara. Hercules itu daya tampungnya  13,5 ton. Anggaplah berangkat PP 3 jam bayarnya 3x1000 dolar, maka 3x10 juta kira-kira 30 juta dikali 13,5 ton dihitung simulasi jatuh jatuhnya harga di Puncak Timika 375 -500 ribu dari yang semula 1 juta,” jelas Ridwan.

Saat ini pihaknya tengah mensimulasikan Jembatan Udara untuk menghitung biaya operasional secara spesifik dan simulasi dilakukan di Papua. Pihaknya juga telah mendiskusikan hal ini ke Kementerian Perhubungan untuk rute perintis supaya bisa diangkut menggunakan pesawat kecil.

"Tol Laut baru kota pelabuhan yang besar. Belum sampai ke daerah pedalaman. Jadi (jembatan Udara) bisa di darat sehingga konsepnya harus multimoda tidak bisa laut saja,” tukasnya. [sam]

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA