Ketua Yayasan St. Pignatelli, Rm. JB Clay Pareira SJ mengatakan bahwa seminar tentang Perang Generasi Ke-IV ini merupakan lanjutan dari seminar pada bulan sebelumnya yang mengambil tema, "MEA Dan Tantangan Dunia Pendidikan Indonesia".
"Tak seorangpun dapat menyiasati dunia yang senantiasa berubah dan memberikan dampak secara nyata atas kehidupan sebuah negara dan rakyatnya. Dunia akan terus mengecoh Indonesia dan tidak mungkin melawannya kecuali kita sendiri mau berubah," kata Clay Pareira seperti disebutkan dalam surat elektronik yang dikirimkan ke redaksi, Senin (25/4).
Menurutnya, lebih dari 60 persen rakyat berpendidikan Sekolah Dasar. Hal itu harus diubah untuk menghadapi globalisasi dunia termasuk pasar perdagangan bebas negara ASEAN atau MEA.
"Perubahan sikap mental yang mendasar diperlukan. Indonesia harus menghapus mental tidak disiplin dan sekaligus membangun kepemimpinan (leadership). Itu merupakan pendapat Pengusaha Nasional, Franciscus Welirang, yang menjadi salah satu pembicara dalam seminar bulan lalu," terang Clay Pareira.
"Namun Indonesia tidak mungkin menjadi pemenang dalam MEA karena sekalipun berpenduduk paling besar, tetapi kualitas pendidikannya rendah. Ini juga diperparah bangsa Indonesia tidak bermental disiplin serta lemah dalam kepemimpinan. Kelemahan Indonesia hanya bisa diatasi dengan segera jika kita sepakat merubah mental tidak disiplin dan membangun kekuatan kepemimpinan (leadership)."
Lalu bagaimana cara memenangkan MEA tersebut? Kata Clay, bangsa Indonesia tidak boleh hanya melihat dari sudut perdagangan bebas saja. Indonesia harus melihat dinamika lain yakni perang tak kasat mata yang tidak menggunakan kekuatan militer tetapi kekuatan senjata ekonomi dan budaya. "Bangsa Indonesia harus dibukakan matanya, sekalipun tidak mudah, untuk berani masa depan masa depan diri dan negaranya," jelasnya.
Bangsa Indonesia, lanjut dia, tidak pernah secara serius dan mendalam membahas setiap dinamika perubahan yang akan berdampak pada masa depannya. Indonesia senantiasa dininabobokan oleh dinamika politik yang tidak jelas tujuan akhirnya dan persoalan yang bukan pada substansinya.
"Pak Kiki Syahnakri adalah orang yang tepat untuk menjelaskan masalah ini. Dalam berbagai tulisannya di media masa pada beberapa waktu lalu, Pak Kiki sudah menjelaskan masalah Perang Generasi Ke-IV ini. Dan menjadi tepat ketika dua rektor dari Universitas Muhamadiyah Surakarta dan Universitas Atma Jaya Yogyakarta membahas perang ini dari kacamata pendidikan,†terang Clay.
Sementara itu, Ketua STIE St. Pignatelli Titik Dwiyani menambahkan, dalam 2016 -2017, STIE/ABA Pignatelli mencoba menghadirkan segala persoalan yang ada di hadapan bangsa Indonesia dengan diberlakukannya MEA.
"Tahun 2017 merupakan tahun yang penuh kejutan ketika pendidikan asing dijinkan masuk ke Indonesia. Siapakah yang akan terlindas? Karenanya, setiap bulan STIE/ABA St. Pignatelli akan menghadirkan berbagai pembicara yang berkompeten di bidangnya untuk menjelaskan berbagai persoalan itu. Lembaga pendidikan Indonesia harus memulai kerjasama berlandaskan nasionalisme dan kepentingan bangsa serta negara," tandasnya.
[sam]
BERITA TERKAIT: