Butuh 380 Ribu Tenaga Kerja Untuk Blok Masela

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Rabu, 20 April 2016, 10:11 WIB
rmol news logo Keputusan membangun kilang LNG Blok Masela di darat (onshore) benar-benar postif bagi tenaga kerja Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Sumber Daya, Rizal Ramli menjelaskan, pemerintah ingin adanya perubaha paradigma dalam mengelola sumber daya alam. Pemerintah tidak ingin hanya menyedot gas dari bumi, lalu di ekspor tanpa ada "bisnis sampingan".

"Kita ingin ubah. Kita ingin bangun tidak hanya industri LNG, kita bangun industri pupuk, dan petrokimia," ujar Rizal usai menerima kedatangan Menaker Hanif Dhakiri kemarin di kantornya saat membahas isu tenaga kerja, Selasa, (19/4).

Blok Masela didesain agar menjadi Kota Balikpapan yang baru berada di Timur Indonesia. Jika hanya mengekspor gas semata, Indonesia hanya memperoleh 2,5 miliar dolar, sementara jika menjual petrokimia dan pupuk, meningkat menjadi 6 miliar dollar. Akan jauh meningkat jika terdapat multiplier effect di dalamnya, yakni akan mencapai 8 miliar dollar.

Karena pengembangan Blok Masela akan sedemikian besar, pemerintah harus menyiapkan Sumber Daya Manusianya. Hal ini berarti pemerintah harus menyiapkan atau menciptakan tenaga kerja yang terintegrasi di berbagai bidang ke Blok Masela.

"Total 380 ribu tenaga kerja di berbagai bidang dibutuhkan untuk Blok Masela," tegas Rizal.

Tenaga kerja sebanyak itu sebagian disiapkan dari Balai Latihan Kerja (BLK), Universitas dan Politeknik di Indonesia. Dibeberkan Rizal, Presiden Jokowi ingin Blok Masela berbeda dengan kilang di Lhoksemawe Aceh yang terpisah dari kota setempat, yang terpisah dari masyarakat setempat.

"Kami minggu depan ke Bintu di Serawak untuk melihat model yang terintegrated.  Nanti semua menteri teknis akan kita undang," tutur Rizal.

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA