Penurunan Harga BBM Jangan Terlalu Banyak

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Selasa, 08 Maret 2016, 21:18 WIB
Penurunan Harga BBM Jangan Terlalu Banyak
net
rmol news logo DPR menyarankan agar penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) tidak terlalu banyak, misal hingga di bawah Rp 5.000 per liter. Pasalnya, penurunan terlalu besar sangat berisiko jika di kemudian hari kembali terjadi kenaikan harga. Dengan penurunan yang terlalu banyak maka potensi besaran angka jika terjadi kenaikan kembali tentu akan tinggi pula.

"Ini bisa mengundang demo besar-besaran," kata anggota Komisi VII DPR Kurtubi kepada wartawan di Jakarta, Selasa (8/3).

Dia berpendapat, rendahnya harga minyak dunia tetap menjadi momen yang tepat untuk menurunkan BBM melalui instrumen kebijakan harga. Meski tentu saja bahwa penurunan tersebut tidak sebanyak yang disuarakan berbagai kalangan, misal di bawah Rp 5.000 per liter.

Tetapi, Kurtubi melihat tidak pas jika beberapa kalangan membandingkan harga BBM di Indonesia dengan negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia. Dilihat dari kondisi geografis dan luas wilayah, Indonesia jauh lebih besar sehingga biaya angkutnya jauh lebih mahal.  

"Tidak aple to aple membandingkan Indonesia dengan negara tetangga. Indonesia sangat luas dan terdiri atas ribuan pulau, tentu ongkos untuk membawa BBM ke berbagai wilayah tersebut sangat mahal. Di Indonesia, perlu pesawat untuk mengangkut BBM sedangkan Singapura misalnya sangat murah karena cukup mempergunakan truk," jelasnya.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) Benny Lubiantara juga berpendapat bahwa penurunan harga yang dilakukan hendaknya jangan terlalu banyak. Karena dikhawatirkan akan berdampak buruk untuk jangka panjang.

Menurutnya, jika tingkat domestic price BBM terlalu rendah maka membuat tingkat konsumsi menjadi sangat boros. Jika kondisi demikian terus terjadi tentu sangat berbahaya bagi ketahanan energi nasional. Pasalnya, pada sisi berbeda saat ini sisi suplai justru mengalami penurunan.

"Konsumsi akan jor-joran karena harga yang terlalu murah. Ini sangat berbahaya karena berimplikasi pada kesenjangan hilir dan hulu yang cukup signifikan," lanjut Benny.

Sementara, pengamat energi Marwan Batubara menambahkan, justru SPBU asing yang saat ini menjual harga BBM lebih mahal ketimbang Pertamina. Untuk itu, pemerintah melalui BPH Migas menjalankan fungsi regulator, dalam hal ini BPH Migas mengatur SPBU asing agar menurunkan harga.

"Minimal mempertanyakan, mengapa Shell dan Total tidak mau menurunkan harga," katanya.

Harga BBM di SPBU asing saat ini memang lebih mahal. Shell misalnya menjual BBM jenis V-Power Rp 9.100 per liter. Harga itu jauh lebih tinggi dibandingkan Pertamax 95 keluaran Pertamina yakni Rp 8.850 per liter. Merujuk pada formula yang sudah ditetapkan, harga jual Shell memang jauh lebih tinggi. Dengan mengacu langsung pada Means of Platt Singapore (MOPS) plus biaya distribusi 2 persen plus margin SPBU harga Shell jenis Super harusnya dijual hanya Rp 7.000 per liter karena hanya didistribusi di Jakarta.

Untuk itu, dia juga mengimbau masyarakat agar lebih jeli dalam membeli BBM untuk kendaraannya. Apalagi, secara kualitas sebenarnya produk Pertamina juga lebih baik.

"Kalau perlu diumumkan di publik bahwa BBM SPBU asing tersebut sudah sangat mahal, jangan dibeli. Sebaiknya masyarakat beralih ke produk yang dijual oleh perusahaan negara yang 100 persen milik rakyat," tegas Marwan yang juga Direktur Eksekutif Indonesian Reseorces Studies (IRESS). [wah] 

FOLLOW US

ARTIKEL LAINNYA