Menanggapi kebijakan itu, anggota Komisi VII DPR, Syaikhul Islam mendukung penambahan BBN untuk jenis solar. Kebijakan BBN itu dapat mengurangi 5,3 juta kiloliter solar atau setara dengan 2,54 miliar dolar AS atau berkisar Rp 31,71 triliun.
"Bencana energi di depan mata, harus pindah ke BBN. Sudah saatnya pemerintah serius dalam memanfaatkan bahan bakar terbarukan. Tidak tergantung dari impor solar yang menggerus devisa kita," kata politisi PKB itu melalui siaran persnya di Jakarta, Kamis (26/3).
Hanya saja, terang Syaikhul, pemanfaatan BBN dari CPO menaikkan harga keekonomian solar. Walau CPO melimpah, tapi pemanfaatannya bagi BBN mahal harganya. Apalagi subsidi BBN dalam APBN-P 2015 antara Rp 3 ribu hingga Rp 4 ribu per liternya. "Subsidi BBN tak baik untuk jangka panjang,".
Anggota Panja Migas Komisi VII itu pun mendorong agar pemerintah segera merealisasikan kebun energi non-sawit untuk mengurangi mahalnya harga CPO.
[wid]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: