Industri Farmasi Ikut Terpuruk Gara-gara Ketergantungan Impor

 LAPORAN: <a href='https://rmol.id/about/'></a>
LAPORAN:
  • Jumat, 30 Agustus 2013, 11:41 WIB
rmol news logo Bahkan baku farmasi di dalam negeri ternyata sebagian besar atau 96 persen masih impor. DPR pun mendesak pemerintah segera menggalakkan program swasembada bahan baku farmasi.  

"Di saat negara-negara tetangga sudah berfokus pada penemuan obat baru, kita masih berpikir bagaimana caranya mencukupi bahan baku," sindir anggota Komisi IX DPR, Zuber Safawi melalui keterangannya, di Jakarta, Jumat (30/8).

Zuber menambahkan, kondisi situasi ekonomi global disertai terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS membuat industri farmasi dalam negeri langsung terpuruk tak berdaya.

"Inilah akibat ketergantungan impor yang tak kunjung habis," kritik legislator PKS ini.

Sebelumnya, asosiasi industri farmasi di tanah air menyatakan berencana akan menaikkan harga obat-obatan menyusul terpuruknya nilai tukar Rupiah yang menyentuh angka Rp. 11 ribu per Dolar AS. Hal tersebut adalah imbas dari naiknya harga bahan baku farmasi kini sebagian besar masih diimpor, antara lain dari India dan China.

Zuber pun mempertanyakan roadmap kemandirian obat di Kementerian Kesehatan yang sudah diminta DPR sejak setahun lalu. Pemerintah diminta menghadirkan daya tarik investor asing, namun hanya untuk industri bahan baku obat farmasi.   

"Daripada tergantung pada impor dan nilai rupiah yang naik-turun, lebih baik kita hadirkan pabrik bahan bakunya langsung di sini," imbuhnya.

Zuber mengingatkan bahwa tinggal hitungan hari Indonesia akan memasuki Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada 2014 yang akan dilaksanakan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan.    Konsumsi obat pada era JKN diperkirakan akan melonjak seiring meningkatnya utilisasi pelayanan kesehatan oleh masyarakat.

Sebagai badan asuransi sosial, BPJS hanya melaksanakan klaim jaminan kesehatan penduduk, namun kesiapan infrastruktur kesehatan, kecukupan SDM kesehatan, serta obat-obatan tetap menjadi kewajiban pemerintah untuk menjamin ketersediaan jumlahnya, kualitas, serta pemerataannya.
   
"Indonesia dalam posisi negara yang rentan, karena banyak tergantung impor. Cukup embargo bahan baku obat dan pangan untuk melemahkan kita, tak perlu invansi militer," demikian Zuber.[wid]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA