May Day Rusuh Investor Hengkang

Investasi Sedang Bagus, Buruh Disuruh Tertib

Senin, 29 April 2013, 08:40 WIB
May Day Rusuh Investor Hengkang
ilustrasi/ist
rmol news logo .Iklim investasi di tanah air sedang bagus-bagusnya. Pengusaha berharap agar peringatan Hari Buruh (May Day) 1 Mei depan, berjalan tertib. Buruh diimbau agar turun ke jalan dengan tertib. Tidak anarkis. Sebab kalau demonya rusuh, investor asing bakal hengkang dari Indonesia.

Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Suryo Bam­bang Sulisto menegaskan, pihak­nya tidak keberatan dengan ren­cana buruh memperingati May Day dengan demonstrasi besar-besaran. Asalkan,  kegiatan terse­but dilakukan de­ngan tertib.

“Silakan demo, itu hak buruh. Hal itu biasa dalam demokrasi, asalkan tidak anar­kis dan rusuh,” kata Sur­yo kepada Rakyat Mer­deka, akhir pekan lalu.

Dia mengingatkan, perekono­mian Indonesia saat ini sedang dalam kondisi baik. Iklim inves­tasi bagus, banyak investor yang ingin menanamkan modal­nya  di Indonesia.

“Jangan sam­pai gara-gara pe­ringatan May Day  rusuh,  iklim inves­tasi terganggu. Kalau in­vestasi bagus yang untung kita semua, bukan hanya pengusa­ha,” imbuh Suryo.

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) belum lama ini merilis realisasi investasi triwu­lan I (Januari-Maret) sebesar Rp 93 triliun. Jumlah itu naik 30 per­sen jika dibanding­kan dengan rea­lisasi triwulan I-2012, yakni sebesar Rp 71 triliun.

Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan dan Minu­man Seluruh Indonesia (Gap­mmi) Franky Sibarani juga tidak ke­beratan buruh menggelar  pe­ringa­tan May Day. Namun, dia me­minta, buruh yang ikut aksi tak melakukan tindakan provokatif.

“Silakan demo tetapi jangan  memaksa buruh lain yang sedang kerja. Tidak mau ikut peringatan  dipaksa untuk ikut,” pintanya.

Ditanya mengenai tuntutan buruh agar Upah Mini­mum Pro­vinsi (UMP) naik setiap tahun, Franky balik bertanya, apakah bu­ruh mampu meningkat­kan produksi? Karena tidak bisa upah naik bila tidak dikuti pe­ningkatan kinerja dan produksi.

“Kalau buruh bisa tingkatkan produksi tidak masalah. Tapi Ka­lau produksi tidak naik semen­tara upah terus minta naik, ya peru­sa­haan bang­krut,” kata Franky.

Ketua Umum Himpunan Peng­u­saha Pribumi Indonesia (HIPPI) Suryani Motik menilai, ada yang janggal di balik maraknya aksi unjuk rasa buruh dalam skala be­sar. Dia curiga, ada kekuatan   ter­tentu yang ingin melumpuhkan perekonomian Indonesia.

“Ka­rena kalau buruh demo te­rus-terusan tentu akan meng­gangu iklim in­vestasi. Situasi ini perlu di­waspa­dai,” katanya.

Suryani menceritakan pengala­mannya ditolak investor dikare­nakan iklim ketenagaker­jaan di Indonesia dinilai tidak kondusif.

Dia bercerita, pihaknya pernah mengundang in­ves­tor Jepang un­tuk memba­ngun pabrik kan­tong darah di Indo­nesia. Sebab, selama ini Indonesia memakai kantong buatan Negeri Sakura. Namun, mereka menolaknya dengan alas­an iklim investasi di Indonesia tidak kondusif.

“Mereka akhirnya memi­lih membuat pabrik di Vietnam. Se­harusnya kita lebih menarik ka­rena pangsa pasar mereka lebih besar di sin. Kita akhirnya hanya menjadi pa­sar mereka,” keluh bendahara Pa­lang Merah Indo­nesia (PMI) ini. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA