Dirawat Rp 1 T, Pantura Masih Berlubang

Senin, 29 April 2013, 07:58 WIB
Dirawat Rp 1 T, Pantura Masih Berlubang
ilustrasi, jalan berlubang
rmol news logo Jalur Pantai Utara (Pantura) Jawa memiliki peran penting di dalam menunjang perekono­mian. Pasalnya, jalur tersebut menjadi akses yang menghu­bung­kan an­tar daerah di Pulau Jawa. Untuk merawat jalan itu, pemerintah mengalokasikan dana cukup be­sar, sekitar Rp 1 triliun per tahun.

Hal diungkapkan Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Djoko Murjanto.

“Walau anggaran tahunan lebih dari Rp 1 triliun, namun pe­­runtukannya didominasi buat pemeliharaan rutin dan ber­kala. Untuk bangun jalan barunya per tahun kira-kira hanya 20 kilo­meter,” kata Djoko seperti dilan­sir dari situs setkab, belum lama ini.

Besarnya alokasi dana pe­me­­li­haraan itu menurutnya, di­se­bab­kan pan­jang Pantura yang menca­pai 1.341 km. Dengan anggaran se­nilai Rp 4,68 triliun dalam em­pat tahun terakhir, Kemente­rian PU ber­hasil me­realisasikan se­besar 97,85 persen.
“Kini Pantura yang kondisi­nya tidak mantap hanya 2,14 persen atau sepanjang 28 KM. Yang kondisinya rusak berat hanya 500 meter di Banten,” imbuhnya.

Berdasarkan pantauan Rakyat Merdeka belum lama ini, ruas Jalan Pantura kondisinya terli­hat memperihatinkan. Banyak ruas jalan berlu­bang besar dan ber­gelombang.

Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Mahendra Rianto menilai, anggaran Rp 1 tri­liun cukup besar untuk ke­per­­luan perawatan jalan. Di­ha­rap­kan, pemerintah bisa le­bih efek­tif memakai dana ter­sebut. Se­bab, dia melihat se­lama ini, mes­kipun jalur Pan­tura sering diper­baiki, tetapi ja­lan mudah rusak.

“Pemerintah harus perhatikan kualitas jalan agar tahan lama. Ka­lau bisa yang dapat  tahan 20 ta­hun. Jangan seperti sekarang, ja­lan baru diperbaiki tahun de­pan sudah rusak lagi. Jangan jadikan Pantura proyek tahu­nan,” sindir Mahendra.

Mahendra mengaku, dirinya kesal dengan buruknya kualitas jalan Pantura.
Sebab, hal itu me­nyebabkan kerugian. Biaya trans­portasi membengkak dan barang yang diangkut se­ring rusak.

Saat ditanya apakah penye­bab kerusa­kan jalan akibat be­ban tonase kenda­raan logistik yang berlebihan, Mahendra meng­akui­nya. Tetapi dia tidak mau disa­lahkan.

“Kalau kualitas jalan baik, saya kira dengan beban tonase berapa pun tidak akan menjadi masalah,” cetusnya. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA