Hal diungkapkan Direktur Jenderal (Dirjen) Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) Djoko Murjanto.
“Walau anggaran tahunan lebih dari Rp 1 triliun, namun peÂÂruntukannya didominasi buat pemeliharaan rutin dan berÂkala. Untuk bangun jalan barunya per tahun kira-kira hanya 20 kiloÂmeter,†kata Djoko seperti dilanÂsir dari situs setkab, belum lama ini.
Besarnya alokasi dana peÂmeÂÂliÂharaan itu menurutnya, diÂseÂbabÂkan panÂjang Pantura yang mencaÂpai 1.341 km. Dengan anggaran seÂnilai Rp 4,68 triliun dalam emÂpat tahun terakhir, KementeÂrian PU berÂhasil meÂrealisasikan seÂbesar 97,85 persen.
“Kini Pantura yang kondisiÂnya tidak mantap hanya 2,14 persen atau sepanjang 28 KM. Yang kondisinya rusak berat hanya 500 meter di Banten,†imbuhnya.
Berdasarkan pantauan
Rakyat Merdeka belum lama ini, ruas Jalan Pantura kondisinya terliÂhat memperihatinkan. Banyak ruas jalan berluÂbang besar dan berÂgelombang.
Wakil Ketua Umum Asosiasi Logistik Indonesia Mahendra Rianto menilai, anggaran Rp 1 triÂliun cukup besar untuk keÂperÂÂluan perawatan jalan. DiÂhaÂrapÂkan, pemerintah bisa leÂbih efekÂtif memakai dana terÂsebut. SeÂbab, dia melihat seÂlama ini, mesÂkipun jalur PanÂtura sering diperÂbaiki, tetapi jaÂlan mudah rusak.
“Pemerintah harus perhatikan kualitas jalan agar tahan lama. KaÂlau bisa yang dapat tahan 20 taÂhun. Jangan seperti sekarang, jaÂlan baru diperbaiki tahun deÂpan sudah rusak lagi. Jangan jadikan Pantura proyek tahuÂnan,†sindir Mahendra.
Mahendra mengaku, dirinya kesal dengan buruknya kualitas jalan Pantura.
Sebab, hal itu meÂnyebabkan kerugian. Biaya transÂportasi membengkak dan barang yang diangkut seÂring rusak.
Saat ditanya apakah penyeÂbab kerusaÂkan jalan akibat beÂban tonase kendaÂraan logistik yang berlebihan, Mahendra mengÂakuiÂnya. Tetapi dia tidak mau disaÂlahkan.
“Kalau kualitas jalan baik, saya kira dengan beban tonase berapa pun tidak akan menjadi masalah,†cetusnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: