Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Rusman Heriawan menyayangkan hingga kini petani belum disiapkan menghadapi AEC. Selama ini sosialisasi AEC masih terbatas pada pejabat pemerintah, diplomat maupun dunia usaha yang besar-besar.
“Untuk dunia usaha mikro maupun petani bisa jadi belum pernah mendengar apa itu AEC,†kata Rusman.
Padahal, menurut dia, petanilah yang akan menghadapi secara langsung dengan persoalanpersoalan terkait berlakunya AEC yang tinggal kurang dari dua tahun lagi.
Rusman berpendapat AEC 2015 lebih menakutkan daripada perdagangan bebas ASEAN dengan China (
ASEAN-China Free Trade Agreement/ACFTA).
Alasannya dengan AEC ini, orang maupun barang dari negaranegara anggota ASEAN bebas keluar masuk di kawasan tersebut.
“Ditambah penyuluh pertanian dari Thailand boleh masuk ke Indonesia nantinya,†ucapnya.
Karena itu, Rusman mengatakan, pemerintah akan menyusun kajian kekuatan dan kelemahan di sektor pertanian untuk menghadapi AEC. Setelah itu, menyusun rumusan-rumusan kesiapan sektor pertanian.
Dia mengatakan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan sektor pertanian dalam menghadapi AEC. Salah satunya harus menyamakan pandangan mengenai AEC sebagai tantangan, bukan ancaman.
“Kita harus melihat apa saja yang perlu ditingkatkan agar Indonesia mampu bersaing dengan negara ASEAN lainnya,â€ujarnya.
Rusman juga memberikan rumusan kesiapan petani lokal dalam menghadapi AEC, seperti produksi dan kualitas apa saja yang harus ditingkatkan. Sebab itu, dia akan membuat sosialisasi mengenai AEC berupa penjelasan kepada petani.
Dia juga mendorong badan penelitian dan pengembangan pertanian serta perguruan tinggi membuat paket-paket kecil sosialisasi yang bisa diterima petani. Dia berharap kalangan pengusaha besar maupun kecil bersama-sama menghadapi AEC 2015.
Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI) Hendri Saragih mengaku petani Indonesia belum siap menghadapi perdagangan bebas AEC. “Itu tidak untuk petani kita saja, petani negara ASEAN lainnya juga sama tidak siap menghadapi perdagangan bebas. Ada yang diuntungkan dan dirugikan,†katanya.
Bahkan, dia takut dengan AEC ini, maka berbagai produk tani lokal akan kalah bersaing alias dihabisi oleh produk-produk tani dari Thailand. Saat ini saja, berbagai produk tani Negeri Gajah Putih ini sudah menyerbu pasar Indonesia.
Sebut saja, Durian, Pepaya hingga beras. Mestinya, sistemnya bukan perdagangan bebas tapi saling memenuhi kebutuhan masingmasing negara ASEAN. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: