Kalangan pengusaha nasional diminta jangan terpaku dengan pemulihan ekonomi di Negeri Paman Sam belakangan ini.
Dia justru meminta, para investor di dalam negeri mewaspadai kemungkinan terjadi penarikan investasi.
“Amerika Serikat tampaknya sudah mulai membaik perekonomiannya.
Investor di dalam negeri perlu mewaspadai pembalikan arah, hati-hati saja dengan imbasnya,†kata Agus seperti dikutip dari situs resmi Kemenkeu di Jakarta, kemarin.
Agus mengatakan, pemerintah telah menyiapkan langkah-langkah
untuk menjaga perekonomian agar tetap stabil. Salah satunya dengan mengamankan Surat Utang Negara (SUN) melalui
Bond Stabilization Framework (BSF). Nanti, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) akan didorong berperan menstabilkan pasar surat utang.
“BUMN kita banyak yang memiliki kekuatan pendanaan besar. Jadi mereka nanti akan stabilkan pasar surat utang jika sewaktu- waktu banyak investor asing yang melepas surat utang dan membuat harga SUN jatuh. Itu koordinasi terkait surat utang kita,†jelas Agus.
Selain BSF, menurut Agus, pemerintah juga sudah menandatangani perjanjian Chiang Mai untuk tujuan mengatasi masalah neraca pembayaran dan likuiditas jangka pendek. Serta mengadakan perjanjian
currency swap dengan China dan Jepang.
Ekonom Didik J Rachbini menilai, kecil kemungkinan terjadi penarikan investasi karena ekonomi di Amerika membaik. Menurutnya, negara maju masih memiliki banyak pemodal. Mereka tidak sampai akan menarik investasinya dari negara berkembang untuk mengenjot perekonomian.
Apalagi, belum tentu negara maju memiliki bahan baku yang menjadi sumber produksi.
“Saya yakin para investor akan tetap berinvestasi dan mereka akan tetap masuk ke Indonesia,†katanya. Selain itu, lanjut dia, iklim investasi di dalam negeri sejauh ini cukup kondusif. Proses demokrasi di Indonesia terus berjalan dan tidak ada perang.
Ekonom Royal Bank of Scotland (RBS) untuk kawasan Asia Tenggara Enrico Tanuwidjaja juga memiliki pandangan yang sama. Dia menilai, ketertarikan asing berinvestasi di Indonesia masih bagus. Dia merujuk nilai transaksi penjualan saham di pasar modal.
“Modal asing di pasar ekuitas Indonesia tercatat naik 13 persen,†kata Didik. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: