Produk Baja China Banjiri Pasar Indonesia

Kondisi Ekonomi Eropa Belum Pulih

Jumat, 19 April 2013, 07:56 WIB
Produk Baja China Banjiri Pasar Indonesia
ilustrasi/ist
rmol news logo .Direktur Eksekutif Asosiasi Industri Besi dan Baja Indonesia (Indonesia Iron and Steel Industry Association/IISIA) Edward Pinem memperkirakan baja China masih membanjiri pasar Indonesia tahun ini.

”Banjirnya produk baja asal China disebabkan masih belum pulihnya kondisi ekonomi di Eropa yang menjadi salah satu pasar utama negara ini,” kata Edward.

Dia menjelaskan, China merupakan produsen besi dan baja terbesar dunia dengan kapasitas produksi 700 juta ton per tahun atau 64 persen dari kapasitas produksi baja dunia sebesar 1,150 miliar ton per tahun.

Akibat belum membaiknya ekonomi di negara-negara Eropa membuat pasar besi dan baja di kawasan tersebut tertekan. Untuk menghindari kerugian lebih besar, China mengalihkan ke negara lain.

“China sebagai produsen besar tentunya lebih memilih untuk mempertahankan produksinya agar tetap meraih marjin, daripada harus menurunkan produksi yang berimbas kepada kerugian,” jelasnya.

Tahun 2012, sebagian besar produsen baja China termasuk Baoshan Iron and Steel (Baosteel) mengalami kerugian cukup besar. Penyebabnya, perlambatan pertumbuhan ekonomi yang memukul permintaan terhadap produk baja.

Di sisi lain, harga bahan baku yang cenderung naik semakin menggerus margin perusahaan.

Baosteel yang merupakan badan usaha milik negara (BUMN), misalnya, laba operasionalnya terpangkas hingga 32,7 persen hingga menjadi 4,72 juta yuan. Laba bersih Baosteel tertolong penjualan sejumlah aset perusahaan.

Edward mengatakan, hampir sebagian besar produksi baja China tidak dapat diserap pasar dalam negeri negara tersebut, sehingga mereka harus mengekspor ke sejumlah negara.

Namun, apabila pasar utama di Eropa mengalami tekanan maka China lebih memilih melempar produk bajanya ke negara-negara yang pasarnya lebih longgar atau kebijakan proteksinya rendah.

Dia memperkirakan, sekitar 13 juta ton yang dipasarkan di negaranegara di luar pasar Eropa, dengan kondisi sekarang hanya mampu diserap 10 juta ton dibandingkan kondisi normal 23 juta ton.

Indonesia, kata Edward, masih membutuhkan produk besi dan baja impor. Namun, misalnya, kebutuhan hanya 5 juta ton tetapi yang masuk ke pasar 10 juta ton sehingga membuat pasar besi dan baja terdistorsi.

Produsen dalam negeri Indonesia terkendala untuk menurunkan kapasitas produksi karena akan membuat harga naik sehingga tidak mampu berkompetisi dengan harga baja China. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA