Mobil Pribadi Dipaksa Beli Premium Rp 6.500 Per Liter

Pertamina Segera Siapkan Dua Jenis SPBU

Selasa, 16 April 2013, 08:24 WIB
Mobil Pribadi Dipaksa Beli Premium Rp 6.500 Per Liter
ilustrasi/ist
rmol news logo .Pemerintah sudah bulat akan melakukan penghematan anggaran energi dengan cara memberlakukan dua harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Pertamina siap menyediakan dua jenis SPBU.

Jajaran PT Pertamina kema­rin menggelar rapat membahas mengenai kemungkinan pemerin­tah memilih kebijakan dual price atau pemberlakukan dua harga.

“Ini para General Manager Unit sedang kami kumpulkan un­tuk mempersiapkan kebijakan ini  (dua harga premium),” ung­kap Se­­nior Vice President Fuel Mar­ke­­ting & Distribution Per­ta­mina Su­hartoko ketika dihu­bungi war­ta­wan, kemarin.

Dia menegaskan, apapun ke­bi­jakan yang akan diambil pe­me­rin­tah soal BBM subsidi, Per­ta­mina siap melaksana­kan­nya.

Suhartoko mengisya­ratkan, da­lam kebijakan pembatasan BBM subsidi nanti, harga pre­mium untuk mobil pribadi akan naik Rp 2.000 per liter.

“SPBU khusus nggak men­jual premium Rp 4.500, tetapi men­jual premium Rp 6.500. Be­gitu juga sebaliknya, Stasiun Pengi­sian Bahan Bakar Umum (SPBU) biasa hanya men­jual Rp 4.500, se­­dang­kan pre­mium khusus ti­dak,” terang Su­hartoko.

Agar tidak terjadi penyim­pa­ngan, kata dia, mobil tangki peng­angkut BBM Rp 4.500 per liter de­ngan Rp 6.500 per liter akan di­bedakan warnanya. Su­har­toko mengaku be­lum bisa bicara lebih detail soal batasan BBM sub­sidi ini karena masih me­nunggu ke­pas­tian dari peme­rintah.

Wacana pembatasan BBM de­ngan memberlakukan dua harga sebelumnya disampaikan Men­teri Energi dan Sumber Daya Mi­neral (ESDM) Jero Wacik akhir pekan lalu.

Dia mengemukakan, bila pem­batasan tersebut resmi dipilih, mobil pribadi akan membeli BBM lebih mahal karena sub­sidinya dikurangi. Te­tapi untuk roda dua dan angkutan umum tetap membeli Rp 4.500 per liter. Untuk pe­laksanaannya nanti akan dibeda­kan SPBU pengisiannya.  

Pengamat Ekonomi dari Uni­ka Atmajaya Pra­setyan­toko me­nga­takan, bila pe­merintah  mem­bela­ku­kan dua harga BBM maka ne­gara bisa menghemat Rp 25-30 triliun.

“Tapi bisa saja penghe­matan ti­­dak sampai sebesar itu bila ter­jadi kebocoran,” tukasnya usai meng­hadiri pelantikan De­puti Guber­nur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo di Jakarta, kemarin.

Dia menyarankan pemerintah menaikkan harga BBM bersub­sidi daripada konsep pembatas­an.   Karena penghematannya le­bih be­sar. Misalnya, harga BBM naik Rp 1500 per liter, maka peng­he­mat­annya bisa sam­pai Rp 55 tri­liun. Tetapi, dia ragu peme­rin­tah berani me­naik­kan harga BBM subsidi mengingat risiko politik­nya sangat besar.

Ketua Umum Himpunan Wira­swasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) Eri Pur­nomohadi  siap mendukung ren­cana pemerintah tersebut.

Namun, dia berharap pe­me­rin­tah tidak mengharuskan pe­ngu­saha SPBU menambah in­fra­struktur baru.

“Kalau kami disuruh menam­bah infrastruktur baru di SPBU ka­rena itu akan keluar biaya lagi,” kata Eri kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

Eri mengaku, pihaknya telah melakukan pembahasan bagai­mana teknis pelaksanaannya di lapangan nanti. Menurutnya, pen­­jualannya tinggal dikelom­po­kan saja berdasarkan jenis pembelian.

Misalnya SPBU A untuk mela­yani angkutan, SPBU B untuk roda dua, dan SPBU C khusus men­­jual BBM harga khusus untuk melayani mobil pribadi.

Eri meminta, pemerintah mem­perketat pengawasan bila jadi ke­bijakan penghematan tersebut diambil. Menurutnya, program itu akan sukses apabila parat ke­polisian dan pemerintah daerah membantu melakukan penga­wasan. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA