Pemerintah Ngebet Batasi BBM Subsidi Mobil Pribadi

Opsi Akhir Pembatasan Dimatangkan Di Istana Cipanas

Sabtu, 13 April 2013, 08:24 WIB
Pemerintah Ngebet Batasi BBM Subsidi Mobil Pribadi
ilustrasi/ist
rmol news logo .Pemerintah menggenjot pembahasan pembatasan bahan bakar minyak (BBM) subsidi. Akhir pekan ini, Presiden SBY dan menteri terkait akan lembur di Istana Cipanas memastikan jurus akhir menyelamatkan subsidi BBM. Ada opsi melarang mobil pribadi menggunakan BBM subsidi.

Kemarin, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Badan Pelaksana Hilir Minyak dan Gas  (BPH Migas), dan Him­punan Wiraswasta Nasional Mi­nyak Dan Gas (Hiswana) mela­kukan pembahasan awal.

“Rapat membahas tiga opsi pembatasan. Nanti hasil dari ra­pat akan kita sam­paikan kepada Pre­siden SBY,” ungkap  Kepala BPH Mi­gas Andy Noorsama Someng kepada wartawan di Kementerian ES­DM, di Jakarta.

Tiga opsi pembatasan BBM subsidi yang dibahas, yakni me­na­ikkan harga BBM subsidi, me­larang mobil pelat hitam me­ng­­­­gu­nakan BBM subsidi dan me­nge­luarkan varian BBM baru Ron 90, yaitu premix seharga Rp 7.000 per liter.

Dari tiga opsi tersebut, peme­rin­tah tampaknya akan memilih opsi pembatasan melarang mobil dinas pakai BBM subsidi. Hal itu terlihat dari pernyataan Wakil Menteri ESDM Susilo Suswo­utomo dan Menteri Ko­or­dinator Perekonomian Hatta Ra­jasa.

Susilo mengatakan, ospi me­naikkan harga BBM kecil, bah­kan ke­mungkinan dalam rapat tidak akan dibahas. “Kita akan lebih spesifik untuk melakukan peng­endalian,” timpal Susilo.

Dia mengatakan, pada prin­sip­nya opsi pembatasan yang akan dipilih karena bisa mem­berikan ke­a­­dilan untuk masya­ra­kat.  Se­bab, saat ini 70 persen kon­­sumsi BBM subsidi lebih banyak dinik­mati kalangan menengah ke atas.

Lang­kah pengendalian dila­kukan agar distribusi BBM sub­sidi bisa lebih tepat sasaran. Se­mentara, Hatta Rajasa malah me­masti­kan peme­rintah menutup opsi rencana men­jual BBM jenis baru, yaitu pre­mix Ron 90.

Hatta menjelaskan, jika bensin jenis premix dijual, maka akan membuat konsumen yang biasa membeli pertamax beralih.  Se­bab, premix yang ditawarkan se­­harga Rp 7.000 per liter atau lebih murah dari pertamax.

“Ron 90 juga subsidi, kalau per­­tamax pin­dah ke situ bagai­mana? Yang tadi­nya tidak diberi subsidi malah kita me­nambah subsidi. Subsidi malah tambah banyak “ ujar Hatta.

Direktur Pe­­masaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya meng­aku siap me­lak­sa­nakan apapun keputusan pemerin­tah. Pertamina sedang menunggu keputusan yang akan diambil pemerintah.

Soal opsi melarang mobil pelat hitam pakai BBM? Dia menja­wab diplomatis. “Pertamina ti­dak punya pilihan lain selain siap,” tegas Hanung.

Menteri ESDM Jero Wacik me­ng­atakan, pemerintah sudah melakukan pemilihan ke­lompok masyarakat untuk mela­kukan pembatasan. Menurut­nya, pe­me­rintah ingin pembatasan ti­dak me­rugikan rakyat kecil.

“Mi­­sal­nya, mobil box pelat hi­tam yang mengangkut sayuran. Pe­merintah ingin mereka nanti  di­ganti pelat kuning untuk me­mu­dahkan petugas di SPBU,” kata Politisi Demokrat ini.

Wacik mengakui, semua opsi pem­­batasan BBM memiliki dam­pak terhadap kenaikan inflasi. Tapi, bisa di­pilih opsi yang paling ke­cilnya dampaknya.

Wakil Ketua Komisi VII DPR  Achmad Ferial mendukung opsi melarang mobil pribadi pakai BBM subsidi. “BBM subsidi cukup dibatasi untuk roda dua dan mobil pelat kuning,” katanya.

Ferial meminta, penghematan anggaran benar-benar dipakai untuk kepentingan pembangunan seperti membangun infrastruktur pertanian. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA