Krisis Mendekat, Menkeu Minta Pengusaha Waspada

Ancaman Penurunan Ekspor Tidak Bisa Dianggap Enteng

Rabu, 10 April 2013, 08:20 WIB
Krisis Mendekat, Menkeu Minta Pengusaha Waspada
Agus Martowardojo
rmol news logo .Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo meminta kalangan pengusaha waspada. Saat ini, ekonomi nasional masih dibayangi krisis keuangan dunia yang belum tuntas. Tekanan ke rupiah masih tinggi.

Agus mengungkapkan, berda­sar­kan catatan World Bank (Bank Dunia), pro­yeksi per­tum­­buhan ekonomi du­nia saat ini masih kurang dari 4 persen. Ar­tinya, kondisi terse­but masih krisis.

“Kalau sekarang masih di ba­wah 4 persen itu artinya masih di bawah krisis. Jadi bapak ibu ha­rus ingat dunia dalam krisis,” warning Agus dalam acara Mu­nas Aso­siasi Pengusaha Indo­ne­sia (Apin­do) di Jakarta, kemarin.

Dia melihat, dampak krisis se­cara perlahan terus mendekat ke Indonesia. Indikasi ersebut bisa dilihat dari pergeseran asum­si mak­ro yang ditetapkan pemerin­tah.
Karena itu, dia me­minta ke­bijakan fiskal (ang­garan) harus dijaga agar tidak sampai defisit.

Calon Gubernur Bank Indone­sia (BI) ini  menjelaskan, pe­me­rintah sudah meng­ambil lang­kah-langkah agar eko­nomi tetap kuat. Seperti peng­etatan penge­luaran anggaran pemerintah.  

“Selama ini fiskal kita kuat meski target pertumbuhan eko­nomi tidak tercapai. Namun nilai tukar rupiah Rp 9.700 per dolar AS dan lifting minyak 840 ribu barel per hari (bph),” jelasnya.

Diakui Menkeu, neraca perda­gangan saat ini masih defisit alias minus. Posisi itu terjadi akibat subsidi energi yang terlalu besar. Karena itu, Agus ingin sub­sidi energi se­gera dibenahi. 

Berdasarkan catatan Badan Pu­sat Statistik (BPS), nilai impor Fe­bruari 2013 sebesar 15,32 mi­liar dolar AS dan nilai ekspor Fe­b­rua­ri 2013 sebesar 14,99 mi­liar do­lar AS. Secara kumulatif Ja­nuari-Fe­bruari 2013, neraca per­dagangan defisit 402,1 juta dolar AS. Faktor utama penyebab de­fisit disebab­kan tingginya impor migas.

Wakil Ketua Umum Kamar Da­gang Dan Industri (Kadin)  Bidang Pem­berdayaan Daerah dan Bulog Natsir Mansyur me­ngatakan, imbas krisis global su­dah dira­sa­kan pengusaha. Dia  mempro­yeksi, ekspor Indonesia akan tu­run lebih dari yang su­dah dipro­yeksi pemerintah.

“Pe­me­rintah sebaiknya mem­batasi produk im­por agar indus­tri lokal bisa menda­patkan pasar lebih luas di negeri sendiri,” pinta Natsir.

Sedangkan Asian Develop­ment Bank (ADB) mem­proyek­si, ekonomi Indo­nesia akan me­ning­kat tahun ini. Bahkan pada 2014, ekonomi nasional di­ramal bisa tumbuh lebih baik.

“Pada Outlook 2013 ADB mem­p­redik­si trend ekonomi di Indonesia bakal tumbuh 6,4 per­sen pada 2013 dan melaju ke le­vel 6,6 persen pada 2014,” ujar Deputy Country Director and Se­­nior Country Economist Edi­mon Ginting saat menyampai­kan paparannya di  Jakarta,  ke­marin.

Proyeksi tersebut, menurut Ginting, karena dukungan inves­tasi yang bagus. Selain itu, kon­sumsi Indo­nesia yang cukup mendu­kung. ADB memproyeksi konsumsi swasta akan menguat tahun ini. Hal tersebut dipicu oleh meningkatnya lapangan kerja, upah minimum rata-rata, dan gaji pegawai. Namun demikian,  wa­laupun ekonomi tumbuh inflasi, ADB melihat inflasi akan sedikit mengalami kenaikan dari tahun lalu. Tapi 2014 akan membaik lagi. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA