Ngurus Data Pangan Saja Ngaco, Gimana Mau Bikin Swasembada

Suswono Salahkan Perubahan Iklim & Alih Fungsi Lahan

Minggu, 07 April 2013, 08:54 WIB
Ngurus Data Pangan Saja Ngaco, Gimana Mau Bikin Swasembada
ilustrasi, Target swasembada produksi pertanian
rmol news logo Target swasembada produksi pertanian utama dinilai hanya omdo alias omong doang. Dalam urusan akurasi data produksi berbagai produk pangan saja, pemerintah tidak becus.

“Lima komoditas strategis yang diharapkan tercapai swasembada tidak juga tercapai yaitu padi, jagung, kedelai, gula dan daging sapi,” ujar pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin.

Untuk padi, kata Bustanul, menurut data sementara, produksinya sebesar 68,9 juta ton gabah atau setara 37 juta ton beras. Jika konsumsi beras nasional mencapai 113,5 kg per kapita. Berarti total konsumsi beras untuk 237,6 juta penduduk sebesar 27 juta ton. Dengan produksi 37 juta ton beras, harusnya terjadi surplus beras.

“Ada yang salah dengan data itu, sehingga kenyataannya Indonesia tetap harus impor beras. Itu karena selalu ada over estimate data sekitar 9-10 persen,” jelas Bustanul. Karena itu, dalam mengurus data saja ngaco apalagi untuk bikin swasembada pangan.
Dengan over estimate itu, data yang menganggap produksi beras cukup ternyata di lapangan belum cukup. Impor terpaksa dilakukan Bulog untuk menjaga agar tidak terjadi gejolak harga.

Ketidaksinkronan data estimasi dengan realisasi tersebut kemungkinan terjadi karena penghitungan akurat hanya dapat dilakukan untuk menghitung luasan sawah, tetapi masih sulit menghitung luasan panen. Pasalnya, bencana alam sering menyebabkan gagal panen, terutama banjir.

Jagung juga mempunyai cerita yang sama dengan beras. Ada gap (selisih) antara data dan impor. Tahun 2012, Indonesia masih impor jagung, padahal menurut data seharusnya surplus.

“Produksi Indonesia baru 18,9 juta ton jagung pipilan kering, sebagian besar untuk pakan ternak,” ungkapnya.

Kedelai mempunyai cerita yang lebih tragis. Sekarang produksi Indonesia 783 ribu ton kedelai kering. Angka ini terus menurun, jauh dari target swasembada sebesar 2,5 juta ton. Impor kedelai Indonesia dari Amerika Serikat.

Sementara untuk gula, target produksinya 2,8 juta ton tetapi kenyataannya produksi hanya 2,3 juta ton. Padahal  konsumsi nasional lebih dari 4,5 juta ton, terdiri dari 2,5 juta ton gula konsumsi dan 2 juta ton gula rafinasi.

Data aneh juga muncul dari komoditas daging sapi. Bustanul meragukan data produksi yang dikatakan 415 ribu ton. Data menyebutkan besarnya konsumsi nasional 510 ribu ton, tetapi impornya 95 ribu ton yang sebagian besar dari Australia.

Bustanul mengungkapkan, kinerja sektor pertanian dalam lima tahun terakhir tidak pernah lebih dari 4,8persen. Bahkan sempat menyentuh angka 2,9 persen tahun 2010. Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,2 persen, belum cukup berkualitas kalau kinerja sektor pertaniannya rendah.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia  (HKTI) Sutrisno Iwantono menyatakan, target swasembada ibarat halusinasi atau khayalan karena tidak ada kebijakan atau progres yang jelas untuk mewujudkan swasembada pangan 2014. “Ya kami sangat pesimis program swasembada pangan dapat terwujud,” katanya.

Untuk beras, dia  melihat, saat ini kebutuhan beras mencukupi hingga tahun depan.

Namun, apakah stok itu merupakan hasil produksi lokal atau digabung dengan sisa impor, datanya harus diklarifikasi dulu.

Ia mengatakan, persoalan swasembada pangan itu terkait  inkonsistensinya pemerintah menjaga agar komoditas tersebut dalam posisi surplus. Tapi kenyataannya, selalu saja mengandalkan impor dengan alasan keadaan darurat.

Bentuk inkonsistensi tersebut antara lain di saat memasuki musim tanam, ternyata benih dan pupuknya tidak ada. 

Khusus daging sapi, Sutrisno makin pesimis lagi. Sebab, jangankan mendekati swasembada, untuk mencukupi kebutuhan dalam negeri saja, banyak peternak yang terpaksa memotong sapi betina.  “Kalau mau swasembada daging, ya perkuat posisi daging,” kata dia.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengaku ada sejumlah kendala untuk mengejar target swasembada pangan. Diantaranya alih fungsi lahan, perubahan iklim dan kerusakan infrastruktur pertanian.  â€Kami menghadapi masalah dengan kedelai dan gula putih karena terbatasnya tanah,” ujar Suswono.

Ia mengatakan, negara ini membutuhkan sedikitnya 500.000 hektar lagi untuk tanah perkebunan kedelai jika ingin mencapai target 2014, dari yang sekarang mencapai 600.000 hektar.

Selain itu, diperlukan lebih dari 350.000 hektar tanah pertanian tebu tambahan untuk mencapai swasembada gula dari 450.000 hektar yang ditanami sekarang. “Sangat sulit mencapai target gula dan kedelai,” tegasnya. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA