Ade menyatakan pemadaman bergiliran ini merugikan dunia usaha. Misalnya, industri tekstil. Industri ini produksi non stop alias beroperasi selama 24 jam setiap hari. Dijelaskannya, bila listrik mati tiga jam maka proÂduksi turun sekitar 20 persen.
“Kalau sampai seminggu listrik padam tiga kali, ya
wasallam, keÂruÂgian tentunya lebih besar, tinggal dikalikan saja jumÂlahÂnya,†kaÂtanya.
PLN melakukan pemadaman bergilir selama sepekan ke depan untuk wilayah Jakarta dan Jawa Barat. Kebijakan itu terpaksa diÂambil karena PLN sedang memÂbetulkan menara Saluran Udara Tegangan ekstra Tinggi (Tinggi) 500 kilovolt (KV) di sekitar area SumeÂdang, Jawa Barat. Menara itu rusak akiÂbat pergeseÂran taÂnah (
landslide) dan tanah sekitar ponÂdasi longsor. Menara SuÂtet terseÂbut menyalurkan lisÂtrik dari ManÂdirancan (Cirebon)-BanÂdung SeÂlatan. Akibatnya transfer daya dari pembangkit yang ada di wilaÂyah Timur Jawa ke wilaÂyah barat (Jakarta dan Jawa Barat) berkurang sekitar 750 Mega Watt.
Ketua Himpunan Lembaga KonÂsumen Indonesia (HLKI) Firman Turmantara menuntut PLN segera memberi komÂpenÂsansi terÂhadap konsumen atau pelanggan yang mengalami peÂmadam berÂgilir.
Menurutnya, pelanggan berÂhak memperoleh ganti rugi, khuÂsusÂnya kalangan usaha. “Ada atau tidak kompensasi dari PLN? Itu yang kami pertanyakan,†kata Firman.
Dasar huÂkumnya, kata dia, periÂhal hak konsumen menÂdaÂpatÂkan kompensasi tertuang di daÂlam Pasal 19 Undang-Undang NoÂmor 8 tahun 1999 tentang PerÂlindungan Konsumen.
Untuk konsumen yang ingin mengajukan gugatan ganti rugi, dijelaskannya, bisa menyampaiÂkannya ke Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK).
Dia menyesalkan, pemadaman listrik terjadi di wilayah Jabar dan Jakarta. Karena di dua wilayah itu banyak industri. Firman berÂhaÂrap, PLN komitmen menjaÂlanÂkan aturan main. Firman meÂneÂgaskan pihaknya siap pasang badan membela pelanggan yang merasa dirugikan PLN.
Bekas Direktur Transmisi dan Distribusi PLN, Herman Darnel menilai bergesernya menara SuÂtet bukanlah kejadian luar biasa atau
force majure. Yang tidak waÂjar menurutnya, cara PLN mengÂantisipasinya dengan melakukan pemadaman listrik bergilir keÂpada pelanggan. Seharusnya, PLN hanya mengalihkan beban listrik dan melakukan perbaikan. Namun diakui, kondisi saat ini tidak mungkin dilakukan. “PemÂbangkit listrik lebih banyak di wilayah timur dari pada di barat, sedangkan beban jauh lebih banyak di barat,†ungkapnya.
Selain itu, pengalihan beban listrik juga diperlukan cadangan listrik. Dia menyalahkan pemeÂrintah dan PLN yang tidak meÂnyiapkan cadangan listrik yang mencuÂkupi. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: