Pengamat otomotif Suhari SarÂÂgo menilai, pembatasan BBM bersubsidi dipastikan menguÂraÂngi jumlah penjualan mobil. PaÂsalnya, pasar mobil terbesar di Indonesia adalah kelas medium dengan harga Rp 100-300 jutaan.
“Penurunan penjualan mobil pastinya tak terelakkan, khususÂnya untuk kelas medium (1.000-2.000 cc) yang pasarnya cukup beÂsar di InÂdonesia, sekitar 70 perÂsen. NaÂmun untuk mobil meÂwah di atas 2.000 cc tidak akan terÂpeÂngaruh,†kata Suhari kepada
RakÂÂyat MerÂdeka, Jumat, (29/3).
Menurut Suhari, kebijakan baÂÂru ini membuat Agen PemeÂgang Merek (APM) mobil gaÂlau, karena akan mengÂganggu pasar penjualan khususÂnya di keÂlas premium.
“Keberadaan mobil murah pun belum bisa dipastikan apakah bisa mendongkrak penjualan atau tidak. Apalagi aturan tersebut tak juga diterbitkan,†kata Suhari.
Ketua III Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) Johnny Darmawan tidak menepis jika pembatasan bahan bakar subsidi akan berÂpengaruh pada penjualan mobil maupun konsumen.
â€Pasti membawa dampak. TaÂpi saya nggak mau berÂspeÂkulasi seperti apa dampaknya. BerÂdaÂsarkan pengalaman sebeÂlumÂnya, beberapa bulan akan berÂdampak, tapi setelah itu akan kemÂbali normal,†tutur Johnny.
Berbeda dengan Ketua I GaiÂkindo Jongkie D Sugiarto yang meyakini penjualan mobil naik sekitar 10 persen dari tahun lalu yang menyentuh angka 1,1 juta unit.
“Memang ada regulasi yang memungkinkan penjualan mobil menurun. Salah satunya pemÂbatasan BBM bersubsidi dan kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Tapi Gaikindo yakin pasar akan tumbuh sedikit dari pencapaian tahun lalu. Dengan kenaikan 7,5 persen, maka pencapaian penÂjualan mencapai angka 1,2 juta unit,†kata Jongkie D SuÂgiarto kepada
Rakyat Merdeka.
Ketua Umum Gaikindo SuÂdirÂman MR mengatakan, asumsi positif terhadap industri otomotif terus mengalir. Kementerian PerÂÂindustrian juga mempreÂdikÂsikan pangsa pasar mobil doÂmesÂtik akan mengalami pertumbuhÂan meski tidak signifikan.
“Kami pengurus Gaikindo unÂtuk sementara menetapkan target penÂjualan sama dengan tahun laÂlu, yakÂni sekitar 1,1 juta unit deÂngan memÂpertimbangkan berÂbagai kebijakan pemerintah yang akan memÂpeÂngaÂruhi angka terÂsebut,†ujarnya.
Adapun faktor yang berpeÂngaÂruh besar terhadap pencaÂpaiÂan inÂdustri otomotif, yaitu keÂbijaÂkan regulator. Di antaraÂnya tenÂtang kenaikan uang muka kredit kenÂdaraan bermoÂtor (
loan to vaÂlue), kenaikan tarif dasar listrik, serÂta persaiÂngÂan dan konÂdisi ekoÂnoÂmi doÂmesÂtik mauÂpun gloÂbal. [Harian Rakyat Merdeka]
Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google
BERITA TERKAIT: