Dipegang SKK Migas, Target Lifting Minyak Makin Melorot

Menkeu Hati-hati Revisi Target Produksi Minyak

Kamis, 31 Januari 2013, 08:12 WIB
Dipegang SKK Migas, Target Lifting Minyak Makin Melorot
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo .Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menilai, target produksi minyak (lifting) tahun ini sebesar 900 ribu barel per hari (bph) sulit tercapai. Karena itu, pemerintah diminta merevisinya.

Hal itu disampaikan Ke­pala SKK Migas Rudi Rubiandini dalam rapat perdana dengan Ko­misi VII DPR, kemarin. Rapat yang di­mulai pukul 10.00 WIB sampai pukul 14.00 WIB dipim­pin Wakil Ketua Komisi VII DPR Zainudin Amali. Rapat tersebut mem­bahas struktur baru SKK Mi­gas dan produksi minyak 2013.

Rudi memprediksi, produksi mi­nyak 2013 hanya akan men­capai 830 ribu barel per hari (bph). Karena itu, pihaknya me­minta pemerintah mengajukan revisi target lifting dalam Ang­garan Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2013 sebesar 900 bph.

“Hingga akhir De­sem­ber kita bekerja agar produksi 830.000 ba­rel tidak turun kem­bali,” ujarnya.

Bekas Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu mengatakan, dalam rapat kerja pe­merintah beberapa hari lalu, Unit Kerja Presiden Bidang Pe­ngawasan dan Pe­ngen­dalian Pem­bangunan (UKP4) sudah mengajukan produksi minyak 850 ribu bph.

Menurut Rudi, dalam APBN Perubahan pemerintah akan me­ngajukan produksi minyak 850 bph ke DPR. Pasalnya, saat ini produksi minyak per Januari men­capai 826 ribu bph. Penu­ru­nan produksi tersebut dikare­na­kan sumur-sumur produksi mi­nyak yang sudah tua serta kon­di­si cuaca yang buruk awal tahun ini.

Namun, dia optimis produksi mi­nyak pada 2014 akan melonjak lagi. Dia memprediksi, produksi minyak akan mencapai 900 ribu bph, sedangkan pada 2015 pro­duksi minyak akan mencapai 1 juta barel per hari. Tapi, itu bisa terwujud kalau Blok Cepu sudah mulai beroperasi.

Rudi mengaku, 70 persen la­pa­ngan migas milik PT Perta­mina (Persero) masih belum di­eksplo­rasi. Dengan kondisi tersebut, dia meminta perusahaan minyak pe­lat merah itu menggenjot pro­duksi minyaknya hingga men­capai 200 ribu bph. “Pertamina memiliki lapangan yang 70 per­sen masih virgin,” jelasnya.

Direktur Eksekutif Masyarakat Pemantau Kebijakan Eksekutif dan Legislatif (Majelis) Sugi­yan­to menyayangkan penurunan tar­get lifting oleh SKK Migas.

“Dipegang SKK Migas target lifting malah diturunin. Alasan­nya selalu sama, sumur tua dan cuaca,” katanya.

Dia justru menilai, monopoli perusahaan minyak raksasa in­ternasional ditenggarai menjadi faktor utama penyebab turunnya produksi minyak di Indonesia. Karena, sebanyak 85 persen pro­duksi minyak nasional negara ini dikendalikan perusahaan asing.


Sugiyanto mengimbau SKK Migas belajar dari penurunan lifting dari tahun-tahun sebelum­nya. Dia berharap, target lifting satu juta barel pada 2014 bisa tercapai.


Menteri Keuangan (Menkeu) Agus Martowardojo menyatakan, revisi target produksi minyak (lifting) harus disikapi hati-hati. “Saya mau hati-hati karena dam­paknya ke fiskal,” ujar Menkeu.


Padahal, sebelumnya Presiden SBY meminta jajarannya untuk bisa merealisasikan target pro­duksi minyak 1 juta bph sebelum 2014. Bahkan, SBY sampai me­ngeluarkan Instruksi Presiden Nomor 2 tahun 2012 tentang Pe­ningkatan Produksi Minyak Bu­mi Nasional.


Dalam Inpres itu dinyatakan bahwa dalam rangka pencapaian produksi minyak bumi nasional paling sedikit rata-rata 1,01 juta barel per hari pada tahun 2014 untuk mendukung peningkatan ketahanan energi, Presiden meng­instruksikan kepada jajarannya untuk melakukan koordinasi dan percepatan penyelesaian perma­salahan yang menghambat upaya peningkatan, optimalisasi dan percepatan produksi minyak bu­mi nasional. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA