Ketua AMKRI Sunoto mengaÂtakan, peningkatan tersebut diÂpengaruhi oleh melonjaknya perÂmintaan dan pemberlakuan keÂbijakan pelarangan ekspor bahan baku rotan.
Menurut dia, pengaturan tata niaga rotan melalui Peraturan Menteri Perdagangan (PermenÂdag) Nomor 35, 36, dan 37 Tahun 2011 membawa manfaat bagi pengusaha rotan domestik.
“Pasokan rotan di dalam negeri sejauh ini aman. Apalagi setelah ada kebijakan penutupan ekspor rotan ke luar negeri. PemberlaÂkuan aturan tersebut sangat teÂpat,†kata Sunoto.
Sunoto mengatakan, pemberÂlakuan aturan tersebut dapat meÂningkatkan daya saing produk rotan di dalam negeri karena beÂberapa negara pengÂekspor produk rotan seperti China dan Jepang mulai kesulitan menÂdapatkan bahan baku.
Hal itu disebabkan selama ini kedua negara tersebut menerima pasokan bahan baku dari dalam negeri yang merupakan produÂsen utama rotan di dunia, dengan 90 persen tumbuhan rotan global barada di Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan.
“Kapasitas produksi rotan seÂkitar 150.000 ton, sekitar 60 perÂsen disumbangkan SulaÂwesi,†katanya.
Data Laporan SurÂveyor (LS) memperlihatkan, nilai ekspor rotan tahun lalu terutama disumÂbangkan produk furnitur senilai lebih dari 118,532 juta dolar AS atau lebih tinggi dari nilai eskpor pada 2011.
Sunoto menjelaskan, pemberÂlakuan peraturan tata niaga rotan tersebut membuka kembali peÂluang industri rotan domestik unÂtuk mengekspor produk rotan ke pasar Eropa dan dapat meÂrambah pasar baru di China.
“KaÂmi melihat jika ekonomi global dapat terus membaik, maÂka industri rotan akan dapat tumÂbuh semakin baik,†ujar Sunoto.
Dirjen Pengembangan PerwiÂlaÂyahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dedi Mulyadi mengatakan, permaÂsaÂlahan yang tersisa, yakni belum terserapnya semua jenis rotan mulai terjawab dengan adanya inovasi produk papan rotan.
“Pusat inovasi rotan nasional (Pirnas) yang akan diresmikan dalam waktu dekat berhasil meÂnemukan produk papan rotan dan rotan belah yang diminati banyak negara,†katanya.
Menurut Dedi, pada acara
InÂternational Mebel Messe di CoÂlogne, Jerman, beberapa waktu lalu, produk inovasi terÂsebut berÂhasil menarik minat sekitar 500 pembeli dan 27 pembeli potensial yang berasal dari Jerman, Turki, Malaysia, Amerika Serikat (AS), Israel, Inggris dan Belanda.
Adapun penjualan produk roÂtan Indonesia di pameran tersebut mencapai 850 m3 dengan nilai transaksi mencapai 2 juta dolar AS, sementara total nilai penjualÂan negara lain hanya mencapai 1,2 juta dolar AS.
“Papan rotan mendapat baÂnyak permintaan dari berbagai negara. Produk ini juga dapat diÂbuat dari segala jenis rotan dan sudah diÂpatenkan di hak kekaÂyaan inteÂlektual,†katanya.
Pirnas, menurut Dedi, juga akan bekerja sama dengan Pusat Inovasi Rotan Jerman, Institut Teknologi Bandung, Universitas Tadulaku dan asosiasi industri untuk meningkatkan kualitas dan inovasi produk rotan domestik.
Dia menuturkan, beberapa neÂgara seperti Jerman, Israel, Rusia dan Malaysia telah melaÂkukan pemesanan papan rotan dan beberapa negara lainnya siap berkunjung ke dalam negeri untuk melakukan penjajakan produk tersebut. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: