Larangan Ekspor Bahan Baku Tingkatkan Produk Rotan 25 Persen

Kamis, 31 Januari 2013, 08:02 WIB
Larangan Ekspor Bahan Baku Tingkatkan Produk Rotan 25 Persen
ilustrasi, rotan
Kecil Besar
rmol news logo Asosiasi Mebel dan Keraji­nan Rotan Indonesia (AMKRI) memprediksi ekspor produk ro­tan tahun ini diproyeksikan mencapai 250 juta dolar AS atau naik sekitar 25 persen diban­ding tahun lalu senilai 200 juta dolar AS.

Ketua AMKRI Sunoto menga­takan, peningkatan tersebut di­pengaruhi oleh melonjaknya per­mintaan dan pemberlakuan ke­bijakan pelarangan ekspor bahan baku rotan.

Menurut dia, pengaturan tata niaga rotan melalui Peraturan Menteri Perdagangan (Permen­dag) Nomor 35, 36, dan 37 Tahun 2011 membawa manfaat bagi pengusaha rotan domestik.

“Pasokan rotan di dalam negeri sejauh ini aman. Apalagi setelah ada kebijakan penutupan ekspor rotan ke luar negeri. Pemberla­kuan aturan tersebut sangat te­pat,” kata Sunoto.

Sunoto mengatakan, pember­lakuan aturan tersebut dapat me­ningkatkan daya saing produk rotan di dalam negeri karena be­berapa negara peng­ekspor produk rotan seperti China dan Jepang mulai kesulitan men­dapatkan bahan baku.

Hal itu disebabkan selama ini kedua negara tersebut menerima pasokan bahan baku dari dalam negeri yang merupakan produ­sen utama rotan di dunia, dengan 90 persen tumbuhan rotan global barada di Sulawesi, Sumatera dan Kalimantan.

“Kapasitas produksi rotan se­kitar 150.000 ton, sekitar 60 per­sen disumbangkan Sula­wesi,” katanya.

Data Laporan Sur­veyor (LS) memperlihatkan, nilai ekspor rotan tahun lalu terutama disum­bangkan produk furnitur senilai lebih dari 118,532 juta dolar AS atau lebih tinggi dari nilai eskpor pada 2011.

Sunoto menjelaskan, pember­lakuan peraturan tata niaga rotan tersebut membuka kembali pe­luang industri rotan domestik un­tuk mengekspor produk rotan ke pasar Eropa dan dapat me­rambah pasar baru di China.

“Ka­mi melihat jika ekonomi global dapat terus membaik, ma­ka industri rotan akan dapat tum­buh semakin baik,” ujar Sunoto.

Dirjen Pengembangan Perwi­la­yahan Industri Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Dedi Mulyadi mengatakan, perma­sa­lahan yang tersisa, yakni belum terserapnya semua jenis rotan mulai terjawab dengan adanya inovasi produk papan rotan.

“Pusat inovasi rotan nasional (Pirnas) yang akan diresmikan dalam waktu dekat berhasil me­nemukan produk papan rotan dan rotan belah yang diminati banyak negara,” katanya.

Menurut Dedi, pada acara In­ternational Mebel Messe di Co­logne, Jerman, beberapa waktu lalu, produk inovasi ter­sebut ber­hasil menarik minat sekitar 500 pembeli dan 27 pembeli potensial yang berasal dari Jerman, Turki, Malaysia, Amerika Serikat (AS), Israel, Inggris dan Belanda.

Adapun penjualan produk ro­tan Indonesia di pameran tersebut mencapai 850 m3 dengan nilai transaksi mencapai 2 juta dolar AS, sementara total nilai penjual­an negara lain hanya mencapai 1,2 juta dolar AS.

“Papan rotan mendapat ba­nyak permintaan dari berbagai negara. Produk ini juga dapat di­buat dari segala jenis rotan dan sudah di­patenkan di hak keka­yaan inte­lektual,” katanya.

Pirnas, menurut Dedi, juga akan bekerja sama dengan Pusat Inovasi Rotan Jerman, Institut Teknologi Bandung, Universitas Tadulaku dan asosiasi industri untuk meningkatkan kualitas dan inovasi produk rotan domestik.

Dia menuturkan, beberapa ne­gara seperti Jerman, Israel, Rusia dan Malaysia telah mela­kukan pemesanan papan rotan dan beberapa negara lainnya siap berkunjung ke dalam negeri untuk melakukan penjajakan produk tersebut. [Harian Rakyat Merdeka]


Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA