.Kementerian Pertanian (Kementan) diminta segera mempercepat proses pencairan dana bantuan untuk petani yang lahannya terkena banjir.
Ketua Departeman Kajian StraÂtegis Serikat Petani Indonesia (SPI) Achmad Yaqub mengaÂtakan, pemerintah harus segera menÂcairkan dana ketahanan paÂngan untuk membantu petani yang sawahnya terendam banjir. Apalagi banyak petani yang moÂdalnya cekak.
Menurut Yaqub, bantuan dana tersebut sangat penting untuk menÂjaga produksi pertanian tetap bisa berlanjut pasca banjir. “BanÂjir melanda daerah produksi beras seperti Karawang, Banten dan JaÂwa Tengah. Itu akan mengÂgangÂgu produksi beras nasional,†kaÂtanya kepada Rakyat Merdeka.
Dia mengatakan, dengan adaÂnya bantuan dana dan benih terÂsebut, dapat membantu petani meÂÂlaÂkukan penanaman ulang padi. Menurut dia, selama 2012 peÂtani kesulitan mengajukan perÂganÂtian itu ditambah biroÂkrasi yang panjang dan berbelit di daerah.
“KeÂmenÂterian Pertanian harus bisa mengatur birokrasi di baÂwahnya,†imbuhnya.
Yaqub menilai, kerugian akibat banjir cukup besar. Ia menconÂtohÂÂkan, untuk wilayah Karawang saja lahan yang terendam jumÂlahnya mencapai 100 hektar deÂngan jumlah produksi 500 ton. Dengan begitu, jumlah keruÂgianÂnya mencapai 500 ribu kilogram (500 ton) dikalikan dengan harga gaÂbah kering Rp 4.000 per kg, haÂsilnya Rp 2 miliar. Itu belum terÂmasuk daerah lainnya.
Saat ini, pemerintah harus seÂgera menerapkan asuransi perÂtaÂnian karena Indonesia rawan benÂcana. Namun, dia berharap agar penerapan itu disiapkan deÂngan matang. Jika tidak komÂpreÂhensif, asuransi pertanian yang akan diÂatur dalam Undang-UnÂdang PerÂlindungan Petani itu hanya akan menjadi tempat korupsi baru.
“Kami juga meminta agar lemÂbaga yang mengelola asuranÂsi perÂtanian adalah badan usaha milik daerah atau negara (BUMD/ BUMN), bukan lembaga atau peÂrusahaan asuransi asing,†tegas Yaqub.
Namun, implementasi asuranÂsi tersebut tidak boleh memÂbeÂratÂkan petani sama sekali. ApaÂlagi dengan menerapkan premi secara langsung kepada petani. PemeÂrintah juga henÂdaknya seÂsegera mungkin melakukan progÂram soÂsialisasi iklim eksÂtrim kepada petani.
Anggota Komisi IV DPR Ian Siagian mendorong agar RanÂcangan Undang-Undang (RUU) PerlinÂduÂngan dan Pemberdayaan PeÂtani (PPP) bisa dipercepat pemÂÂbahasannya. Politisi PDIP itu meminta peÂmerintah memÂbeÂriÂÂkan insentif baÂgi lahan perÂtanian yang terkena banjir.
“Segera inventarisir keruÂgian produksi agar dana konteÂgensi dapat disiapkan dan mudah diÂakses. Ini untuk menjamin proÂdukÂsi pasca bencana tidak meÂnyeÂbabkan kelangkaan yang berÂkepanjangan di masa yang akan datang,†katanya.
Dia juga berharap bencana banÂjir ini tidak dijadikan alasan untuk melakukan impor beras. Apalagi Bulog dan Kementan sebelumnya sudah berjanji tidak ada impor tahun ini.
Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengaku, pihaknya meÂnyiapkan dana dari internal Rp 50 miliar untuk tanggap daÂrurat keÂtahanan pangan semenÂtara. PaÂsalnya, dana kontingensi dari KeÂmenterian Keuangan beÂlum bisa dicairkan.
Menurut Suswono, petani akan mendapatkan biaya pengolahan Rp 2,6 juta per hektar apabila meÂÂngalami gagal panen atau puÂso hingga 75 persen dan dana terÂsebut setelah dilakukan veriÂfiÂkasi akan langsung masuk ke dalam rekening petani.
“Itulah yang diganti. Pertama pupuk, kedua benih, ketiga banÂtuan biaya pengolahan, yaitu Rp 2,6 juta per hektar. Saat ini posisi kami masih tunggu dari daerah setelah klarifikasi. Yang jelas daÂna sudah siap,†ujarnya.
Suswono juga menyayangkan sikap sebagian Dinas Pertanian di beberapa kabupaten tidak meÂngetahui kerugian petani yang terÂÂkena bencana banjir. “Ada peÂtani yang lapor cuma beberapa hekÂtar dan tidak diproses KabuÂpaten, ini saya sayangkan. PaÂdaÂhal, pemerintah siap membantu petani. Tolong jangan dipersulit (petani),†pinta Mentan.
Proses dalam melaporkan gaÂgal panen, kata Suswono, petani harus segera melapor ke Dinas Pertanian Kabupaten setempat. Lalu, Dinas Pertanian Kabupaten menginventarisir dan melaporkan ke Dinas Pertanian Provinsi.
Untuk diketahui, banyak area produksi padi mengalami kebanÂjiran. Di Karawang, 167 hektar saÂwah terendam. Sedangkan di KaÂbupaten Jembrana, Bali, seÂkitar 10 hektar sawah terendam air laut dan di Banten 1.039,5 hekÂtar tambak dan kolam ikan yang terendam. Di Yogyakarta ada 104 hektar lahan padi yang juga terendam banjir. [Harian Rakyat Merdeka]
BERITA TERKAIT: