Kadin Warning Banjir Rusak Iklim Investasi

Industri Di Jabodetabek Sempat Terhenti, Stok Ritel Menipis

Kamis, 17 Januari 2013, 08:24 WIB
Kadin Warning Banjir Rusak Iklim Investasi
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo .Banjir mulai melumpuhkan beberapa kegiatan industri di wilayah Jabodetabek. Industri ritel mengaku kehabisan stok makanan. Pemerintah belum membuat antisipasi.

Hujan yang mengguyur wila­yah Jabodetabek tak hanya mem­buat banyak daerah pemu­kiman penduduk terkena bajir, namun juga menghantam kawa­san in­dustri.

Salah satunya, ka­wasan In­dustri MM 2100 Cibi­tung, Bekasi Jawa Barat, ada be­berapa peru­sahan di kawasan ini ter­endam banjir seperti di jalan Su­matra, banjir sekitar lutut orang de­wa­sa menggenangi jalan ini.

Sebagian perusahan malah meli­burkan karyawannya kare­na tidak bisa berproduksi. Ke­ru­gian banjir ini ditaksir men­ca­pai mi­liaran rupiah. Dari pan­­tauan di lapangan, ter­lihat hujan yang menggenangi ka­wa­san In­dusri MM 2011 sam­pai saat ini masih belum su­rut.

Wakil Sekretaris Jenderal Aso­siasi Pengusaha Indonesia (Apin­­do) Franky Sibarani me­nya­ta­kan, suplai bahan makanan ke wilayah Sumatera terganggu se­jak bebe­ra­pa hari lalu.

“Banjir di kawasan tol Merak sangat mengganggu suplai pro­duk jadi dan baku ke wilayah Su­matera. Tentu ini masalah se­rius yang harus segera disele­sai­kan,” kata Franky.

Saat ini, pihaknya belum men­dapat laporan kerugian akibat ban­jir tersebut. Dampak secara langsung saat ini hanya masalah gangguan distribusi.

Dia juga menyebut industri retail mulai kekurangan bahan makanan. Jika banjir masih ter­jadi hingga beberapa hari ke de­pan, stok barang makanan di re­tail semakin menipis dan kon­sumen semakin menurun.

“Saat ini memang masih ada stok. Tapi jika terus berlanjut ke­­­ru­gian akan terasa,” cetusnya.

Selain kehabisan stok maka­nan, banjir juga membuat bebe­rapa industri kesulitan mensuplai bahan produksi akibat terjebak macet. Barang yang semestinya terkirim hanya dalam tempo se­hari molor menjadi tiga hari.

Wakil Ketua Umum Kamar Da­gang Dan Industri (Kadin) Bi­dang Perdagangan, Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur menga­takan, tahun lalu saja ke­rugian aki­bat banjir mencapai Rp 10 mi­liar per hari. Tahun ini kemung­kinan jauh lebih besar.

Menurut Natsir, kalau keru­gian tahun lalu hanya bertumpu pada menumpuknya truk di pe­labuhan Merak dan Bakauheni karena lamanya penumpukan ba­rang. Tahun ini dia prediksi kerugian bakal lebih besar ka­rena ditam­bah kema­cetan di tol selama ber­jam-jam.

Dia menjelaskan, banjir di tol arah Merak mengakibatkan bia­ya angkut semakin tinggi. Hal ini berakibat pada pengangkutan ba­rang dari Cilegon, yang nota­bene daerah industri menuju Jakarta menjadi terhambat.

“Jika barang yang diangkut merupakan barang yang akan diekspor, kerugian akan sema­kin besar,” kata Natsir.

Ketua Umum Kadin Suryo Bambang Sulisto mengatakan, per­soalan banjir harus segera di­­atasi pemerintah daerah mau­pun pusat. Ia menyebut, ke­ru­gian yang diakibatkan karena banjir tak semata-mata soal ma­teri saja, tapi juga bisa ber­dam­pak pada iklim investasi.

“Ini bukan hanya masalah ma­terial, tapi multiplier effect (dam­pak beruntun) yang dise­babkan banjir jauh lebih besar. Siapa in­vestor yang mau masuk kalau banjir begini,” kata Suryo.

Direktur Jenderal Per­da­ga­ngan Dalam Negeri Kemente­rian Per­da­gangan Gu­naryo me­­­nga­takan, berdasarkan data yang dikum­pulkan dari 33 pro­vinsi, disim­pulkan bahwa harga bahan pokok secara nasional ma­­sih re­latif stabil.

Dia menjelaskan, harga beras, minyak goreng curah dan tepung te­rigu relatif stabil. Masing-ma­sing naik 0,22 persen (menjadi Rp 8.323 per kg), 0,5 persen (men­jadi 10.117 per kg) dan 0,26 persen (menjadi 7.847 per kg). Harga gula pasir justru turun 0,61 persen menjadi 12.310 per kg.

Harga daging sapi dan daging ayam relatif masih tinggi, tetapi ada kecenderungan menurun ma­­sing-masing 0,54 persen (men­ja­di 85.438 per kg) dan 0,19 per­sen (menjadi 27.518 per kg). Ke­naikan harga tertinggi ter­jadi pada telur, yakni sebesar 1,86 per­­sen menjadi Rp 18.562 per kg.

“Masih tingginya harga daging sapi karena masih terbatasnya pa­sokan. Sementara untuk daging ayam dan telur lebih disebabkan karena meningkatnya permintaan sebagai substitusi dari daging sapi,” kata Gunaryo. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA