Cuaca Buruk Mulai Ancam Distribusi Makanan

Harga Sembako Di Pasar Jabodetabek Terus Merangkak

Rabu, 16 Januari 2013, 08:02 WIB
Cuaca Buruk Mulai Ancam Distribusi Makanan
ilustrasi, sembako
Kecil Besar
rmol news logo .Kondisi cuaca yang ekstrim mu­lai mempengaruhi distribusi pro­duk makanan dan minuman. Peme­rintah belum menyiapkan antisi­pasi. Gabungan Pengusaha Ma­kanan dan Minuman Se­luruh Indonesia (Gapmmi) mengkha­watirkan kon­disi cuaca buruk yang disertai intensitas cu­rah hu­jan tinggi, dapat meng­ganggu distribusi dan pasokan bahan baku produk makanan.

“Jika cuaca ekstrem ini ber­ke­lanjutan, pasokan bahan baku akan terdampak signifikan se­hingga memicu peningkatan bia­ya produksi bagi perusahaan ma­kanan dan minuman,” kata Ketua Umum Gapmmi Adhi S. Lukman di Jakarta, kemarin.

Gangguan distribusi, menurut Adhi, dapat terjadi dalam jangka waktu dekat menyusul terham­batnya transportasi laut yang di­se­babkan arus tinggi sehingga mengganggu jadwal kapal laut.

“Kondisi cuaca dengan tingkat curah hujan yang tinggi membuat jadwal kapal laut menjadi ter­ganggu. Sementara dari sisi pa­sokan bahan baku, sangat di­pe­nga­ruhi stok dan kontrak pem­belian bahan baku para produsen makanan,” tandasnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kementerian Per­dagangan Gunaryo mengatakan, berdasarkan data yang dikum­pul­kan dari 33 provinsi, periode ming­gu I dan minggu II Januari 2013, disimpulkan bahwa harga bahan pokok secara nasional ma­­sih relatif stabil.

“Walaupun ada kenaikan tetapi tidak signi­fikan,” ujar Gunaryo.

Dia menjelaskan, harga beras, minyak goreng curah, tepung te­rigu relatif stabil. Masing-ma­sing mengalami kenaikan 0,22 persen (menjadi Rp 8.323 per kg), 0,5 persen (menjadi 10.117 per kg), dan 0,26 persen (men­jadi 7.847 per kg). Harga gula pa­sir justru turun 0,61 persen men­jadi 12.310 per kg.

Harga daging sapi dan daging ayam relatif masih tinggi, tetapi ada kecenderungan menurun ma­sing-masing 0,54 persen (men­jadi 85.438 per kg) dan 0,19 per­sen (menjadi 27.518 per kg). Kenaikan harga tertinggi ter­jadi pada telur, yakni sebesar 1,86 persen menjadi Rp 18.562 per kg.

“Masih tingginya harga daging sapi karena masih terbatasnya pasokan. Sementara untuk daging ayam dan telur lebih disebabkan karena meningkatnya permin­taan sebagai substitusi dari da­ging sa­pi,” kata Gunaryo.

Namun  Muhamin (37), peda­gang Pasar Palmerah, Ja­karta Barat, menga­takan, faktor cuaca sangat mem­pengaruhi perubahan harga sem­bako. Umumnya cabe dan ba­wang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, dan sayur-sayu­ran berasal dari Jawa Barat.

“Sem­­bako yang terhambat di­distribusikan karena banjir bia­sa­nya akan rusak, sehingga mem­­buat pedagang menaikkan sem­bako yang tersisa supaya tidak rugi,” jelasnya.

Harga cabe merah ke­riting yang semula sekitar Rp 16.000 per kg kini naik menjadi Rp 24.000 per kg. Cabe rawit merah dari sekitar Rp 18.000 per kg naik jadi Rp 32.000 per kg.

Sementara untuk Cabe rawit hijau dari sekitar Rp 10.000 naik jadi Rp 18.000 per kg. Tomat dari sekitar Rp 5.000 naik jadi Rp 8.000 per kg. Ke­naikan harga tersebut sa­ngat mem­be­rat­kan, terutama bagi kon­sumen dari para pedagang maka­nan. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA