Pengusaha & Agus Marto Tidak Sinergi Hadapi Jurang Fiskal AS

Tanpa Deteksi Ekspor, Sulit Mengirim Komoditas Baru

Minggu, 06 Januari 2013, 08:39 WIB
Pengusaha & Agus Marto Tidak Sinergi Hadapi Jurang Fiskal AS
Agus Mar­to­wardojo
Kecil Besar
rmol news logo .Ada beberapa persoalan domestik yang perlu dibereskan agar Indonesia bisa menangguk untung di balik kelonggaran anggaran Amerika.

Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan, transisi perbaik­an ekonomi Indonesia terjadi mela­lui pasar keuangan, di mana bursa saham akan bergairah dan nilai tukar rupiah akan menguat karena banjirnya dolar AS ke in­ves­tasi AS ke negara-negara ber­kem­bang (emerging economies).

“Arus investasi AS ke emer­ging economies, termasuk In­do­ne­sia akan membesar sehingga pemerintah harus bisa mencip­ta­kan iklim yang kondusif. Se­perti persoalan buruh harus bisa di­selesaikan secepatnya,” ka­tanya, akhir pekan lalu.

Menurut Ryan, transmisi juga terjadi melalui perdagangan di mana ekspor ke AS akan mem­baik sehingga berdampak positif untuk neraca perdagangan Indo­nesia. Selain itu, perdagangan In­­donesia ke negara-negara lain ju­ga akan membaik karena senti­men positif dari membaiknya atas outlook ekonomi AS.

Untuk itu, kalangan pengusa­ha nasional perlu segera me­nyiap­­kan diri mendekteksi ke­bu­tuhan barang ekspor apa saja yang bisa masuk ke Amerika.

“Negara-ne­gara mitra dagang AS juga perlu diidentifikasi un­tuk di­jadikan negara-negara baru tu­juan ekspor produk nasional. Ka­lau tidak, Indonesia tidak mem­­peroleh pe­luang apapun dari Un­dang-Un­dang perbaikan ang­garan di AS tadi,” jelasnya.

Wakil Ketua Umum Kamar Da­­gang dan Industri (Kadin) Bi­dang Moneter, Fiskal dan Ke­bijakan Publik Hariyadi Su­kam­dani mengaku belum me­nyiap­kan langkah antisipasi atas ke­bijakan AS dalam menghindari jurang fiskal (fiscal cliff).

“Selama kondisi industri da­lam negeri ti­dak di­perbaiki, ma­ka su­lit me­ningkat­kan ekspor Indo­nesia ke Negeri Paman Sam,” kata Hariyadi.

Menteri Keuangan Agus Mar­to­wardojo menegaskan, peme­rin­tah pada 2013 akan me­num­bu­hkan ekonomi nasional se­cara inklusif sebagai wujud an­tisipasi jurang fiskal di AS.

Agus menjelaskan, pertum­buhan eko­nomi inklusif akan me­rangsang masuknya investasi berkelan­jutan. Untuk itu, diper­lu­kan perbaikan infrastruktur.

“Yang kami maksud infra­struk­tur tentu dalam arti luas sehingga meliputi juga masalah energi dan masalah pendukung lainnya,” ujar Menkeu di kantornya.

Ekonom dari The Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Har­tati meyakinkan, dampak dari jurang fiskal AS berpenga­ruh ter­hadap ekonomi Indonesia. Dam­paknya antara lain ekspor Indo­nesia ke AS akan me­lam­bat.

Se­mentara dampak tidak lang­sungnya, Indonesia akan di­banjiri produk impor AS dan negara maju lain­nya karena Ame­rika juga men­jadi tujuan ekspor dari berbagai Negara di dunia.

“Karena Amerika sedang go­yah, negara lain akan alihkan eks­pornya ke Indonesia. Karena market di Indonesia sangat besar sekali. Ini akan menyebabkan pe­­netrasi impor ke Indonesia se­makin membesar. Ekspor me­lam­bat, ini akan memperberat neraca perdagangan kita,” ujar­ Enny ke­pada Rakyat Merdeka.

Direktur Utama Bursa Efek In­donesia (BEI) Ito Warsito menu­turkan, fiscal cliff di AS mem­bawa efek positif ke­pada per­tum­buhan ekonomi Indonesia.

“Kalau AS baik, otomatis pasar modal kita ikut baik. Itu jadi sen­timen positif bagi pertum­buhan saham di dunia,” tukas Ito. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA