Perbaikan Ekspor Butuh Komitmen

Anggota Kadin Sering Salah Tingkah Lihat Kebijakan Pemerintah

Minggu, 06 Januari 2013, 07:59 WIB
Perbaikan Ekspor Butuh Komitmen
ilustrasi/ist
Kecil Besar
rmol news logo Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bidang Moneter, Fiskal dan Ke­bijakan Publik Hari­yadi Sukam­dani mengata­kan, tidak ada kait­an langsung dari kebijakan Ame­rika Serikat (AS) menghindari jurang fiskal terhadap kinerja ekspor Indone­sia. Menurutnya, selama kondisi industri dalam negeri tidak di­perbaiki, maka su­lit meningkat­kan ekspor Indo­nesia ke Negeri Paman Sam ini.

“Trend ekspor Indonesia ke AS selama ini cenderung membaik. Hal itu terutama disebabkan mu­lai membaiknya perekonomian di AS. Sementara kondisi industri di dalam negeri kita saat ini kurang mendukung,” ujarnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.

 Hariyadi mengungkapkan, banyak hal yang harus diperbaiki guna meningkatkan kinerja eks­por Indonesia. Ironisnya, kebija­kan yang dibuat pemerintah bela­kangan ini dinilai justru me­nyu­lit­kan industri dalam negeri untuk berkembang. Baginya, ji­ka ingin meningkatkan kinerja ekspor, pemerintah harus fokus mem­be­nahi berbagai hambatan industri di dalam negeri.

“Kebijakan pemerintah yang tidak mendukung industri da­lam negeri sangat memberat­kan, ter­u­­tama bagi industri pa­dat karya seperti garmen yang bero­rientasi ekspor. Kalau me­reka dipersulit dengan beban upah yang terlalu tinggi serta kenai­kan tarif listrik, rasanya sulit menggenjot ekspor bahkan bisa turun,” jelas Hariyadi.

Hariyadi memperkirakan, ke­naikan upah buruh serta tarif da­sar listrik (TDL) sepanjang ta­hun 2013 akan berdampak pada me­ningkatnya biaya produksi. Ke­naikan biaya produksi itu mem­­­buat pelaku usaha melaku­kan efisiensi internal dan penye­suaian harga jual.

Anggota Lembaga Pengkajian Peneliti dan Pengem­bangan Eko­nomi (LP3E) Kadin Ina Pri­mia­na mengata­kan, sektor in­dustri perlu menda­pat dukung­an me­ng­ingat kinerja ekspor in­dustri me­nurun diban­dingkan tahun lalu.

Ekspor sektor industri menu­run 4,64 persen dari 112,262 mi­liar dolar AS menjadi 107,48 miliar. Menurutnya, eks­por in­dustri turun disebabkan pasar ekspor sedang buruk dan pabrik di dalam negeri meng­alami un­der capacity.

“Industri kini serba salah ka­rena pasar ekspor belum mem­baik. Konsumsi domestik kini malah diisi barang-barang im­por. Industri harus dibantu bagai­mana caranya agat tidak terjadi PHK baik oleh investor asing maupun lokal,” kata Ina.

Ina mengatakan, iklim do­mestik harus diperbaiki. Iklim tersebut, menurutnya, banyak dipengaruhi demonstrasi buruh. Kenaikan upah yang terlalu tinggi mem­buat pengusaha  melakukan PHK agar bisa bertahan. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA