Batal Jual Blok Migas Arun, Wacik Tendang Bos Exxon

Investor Domestik & Pemerintah Ikutan Bingung

Jumat, 04 Januari 2013, 08:22 WIB
Batal Jual Blok Migas Arun, Wacik Tendang Bos Exxon
Richard Owen
Kecil Besar
rmol news logo .Satuan Kerja Sementara Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SK Migas) mencopot Presiden Direktur ExxonMobil Richard Owen dari jabatannya karena masalah gagalnya penjualan Blok migas Arun.

Wakil Menteri Energi Sumber Da­ya Mineral (ESDM) Rudi Ru­biandini menga­ta­kan, pihak­nya me­mang tidak berwe­nang untuk mem­ber­hentikan pe­tinggi perusahaan kon­trak­tor migas. Kewena­ngan itu ada di SK Migas.

“Saya sen­diri ti­dak tahu detil pe­nye­bab pember­hen­tian itu,” ungkap Rudi di Ja­karta, kemarin.

Kepala Divisi Hu­mas Sekuriti dan Formalitas SK Migas Hadi Pra­setyo menyatakan, alasan pem­­ecatan CEO Exxon­Mo­bil ka­rena perusahaan tersebut di­ang­gap tidak konsisten untuk men­jual dua blok gas Arun ke­pada perusahaan migas nasional.

Pada­hal, sejak diumumkannya ren­cana penjualan itu ke publik, sudah ada beberapa perusahaan migas yang ingin membeli.

“Itu menjadi salah satu alasan­nya, karena banyak investor migas yang memastikan mau masuk ke Indonesia, tapi tidak ada keje­la­san dari Exxon. Investor dan pe­me­rin­tah jadi bingung karena Exxon ti­dak konsis­ten de­ngan apa yang dila­ku­kan­nya,” te­rang­ Hadi ke­pada Rak­yat Mer­deka di Jakarta, kemarin.

Informasi yang di­terima Rak­yat Mer­deka menye­but­­­kan, Pre­siden Di­­rektur (Presdir) Exxon­Mobil Indo­nesia (EMOI) Ri­chard Owen dipe­cat pada 27 Desem­ber 2012. Pemeca­tan ter­sebut ka­barnya ter­kait ke­eng­ganan EMOI untuk menjual Blok Arun ke Grup Man­diri. Grup ini pu­nya afiliasi de­ngan sa­­lah satu petinggi bank BUMN.

Menteri ESDM Jero Wacik yang melakukan pencabutan izin kerja CEO perusahaan asal Ame­rika Serikat (AS) ter­se­but. De­ngan tidak diteken­nya per­pan­­jangan kerja itu, Owen yang baru menjadi Presdir Exxon­Mobil Indonesia pada Januari 2012 ha­rus heng­kang pada Februari 2013.

Selain itu, kata Hadi, hal ter­sebut juga terkait persoalan early production facility (EPF) Blok Cepu misalnya, Exxon terbukti tak mampu menyelesaikan target yang sudah dipatok untuk me­ningkatkan produksi minyak di September 2012 lalu.

Dia menjelaskan, SK Migas memang mempunyai wewenang untuk melakukan pem­­berhentian atas CEO pe­ru­sahaan migas yang tidak kon­sis­ten. Ke­tidak­kon­sis­tenan inilah yang mem­buat Jero Wacik be­rang.

“Ya hal itu dilakukan untuk men­jaga kesinambungan proyek migas supaya berjalan. Kemu­di­an harus diperhatikan juga ke­pentingan nasional. Kalau dinilai kurang kooperatif dan program­nya tidak konsisten, ya sudah (dipecat),” tegas Hadi.

Sebelumnya, pihak EMOI me­nyampaikan alasan penjualan 30 persen sahammnya di Blok Arun.

“Kami terus melakukan peng­ka­jian dan evaluasi soal Blok Arun itu. Kami pikir pe­nge­lo­laannya bisa lebih maksi­mal jika dikelola pihak lain,” ungkap Exploration Public Affairs Ma­nager Exxon-Mobil Indonesia Vasta C Choesin kala itu.

Ada tiga perusahaan yang sa­hamnya di­lepas, yakni Mobil Ex­plo­ration Indonesia Inc, Ex­xonMobil Oil Indonesia Inc dan Mobil LNG Indonesia Inc. Porsi saham yang dilepas masing-masing 100 per­sen untuk Blok B Arun dan La­pangan North Su­matera Offshore. Lapangan ini memproduksi rata-rata 215 juta kubik per hari (mmscfd) gas dan kondensat setiap tahun. [Harian Rakyat Merdeka]

Jadikan RMOL.ID sumber pilihan pencarian Google

FOLLOW US

Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.

ARTIKEL LAINNYA