Memasuki awal tahun 2013, beberapa harga bahan pokok di pasar tradisional mengalami kenaikan. Pedagang diduga ikut memainkan harga.
Sekjen Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) NgaÂdiran mengatakan, saat ini sudah ada beberapa bahan pokok yang mengalami kenaikan harga, antara lain daging sapi, telur ayam dan beras. “Daging mengaÂlami kenaikan harga yang paling tinggi,†ujarÂnya kepada Rakyat Merdeka, kemarin.
Menurut Ngadiran, saat ini harga daging di pasar tradisional Jakarta masih berada di kisaran Rp 90.000 sampai Rp 95.000 per kilogram (kg). Kenaikan harga daging sapi ini mulai terjadi sejak bulan lalu.
Faktor penyebabnya adalah minimnya pasokan. Pedagang terpaksa harus menaikkan harga dan ini masih akan terus berlanjut selama masalah pasokan tidak diselesaikan pemerintah.
Langkah pemerintah untuk menambah pasokan daging juga belum membuat harganya meÂngalami penurunan. “Yang ada omset pedagangnya turun kaÂrena pembelinya mulai berÂkuÂrang,†katanya.
Hal yang sama terjadi untuk harga beras. Menurut Ngadiran, harÂga beras terus beranjak naik. Saat ini, harga beras kelas meÂdium berada di kisaran Rp 8.000 sampai dengan Rp 8.500 per kg. Sedangkan beras premium dijual Rp 10.00-an per kg.
Dia mengatakan, masih bertaÂhannya harga beras di kisaran Rp 8.000 per kg karena tertolong oleh opeÂrasi pasar (OP) yang diÂlakukan Bulog. “Saat ini operasi pasar masih bisa menahan lonÂjakan harga,†katanya.
Sedangkan harga telur ayam, saat ini masih dijual di atas Rp 17.000 sampai Rp 18.000 per kg karena ada kenaikan dari peterÂnakÂnya. “Untuk cabe, bawang, gula, terigu dan minyak goreng harÂganya stabil karena pasoÂkannya ada,†tandasnya.
Pengamat ekonomi dari InÂstitute for Development of EcoÂnoÂmics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, kenaikÂan harga bahan pokok terutama saat akhir tahun, disebabkan ada peÂnentu harga dari pihak swasta yang berakibat persaingan pasar tidak kompetitif.
“Ada pihak tertentu yang meÂngendalikan sehingga harga daÂpat ditentukan sesuai kepenÂtingan mereka dan para pedaÂgang tidak bisa menentukan harÂga sendiri,†terang Enny.
Enny menjelaskan, para price maker atau pengendali harga tersebut biasanya menimbun baÂrang-barang yang perminÂtaÂannya cukup besar bagi konÂsumen seÂperti beras, gula, telur dan bahan pokok lainnya. ApaÂlagi masyaÂrakat pasti akan membeli meskiÂpun mahal.
Dia juga mengatakan, selain kondisi pasar, pendistribusian juga faktor pendorong harga baÂhan pokok naik. “Infrastruktur yang tidak memadai dan adanya pungutan liar juga menyebabkan ongkos pengiriman jadi naik, akibatnya harga barang juga naik,†tandasnya.
Ketua Umum Asosiasi PeterÂnak Unggas se-Indonesia HartoÂno mengakui, pihaknya sudah menaikkan harga telur ayam. Menurutnya, kenaikan harga itu menyesuaikan dengan kenaikan pakan ternak.
“Kita naikkan harga untuk membantu petani jagung yang mengeluhkan harga jual jagung murah. Apalagi harga kedelai juga ikut naik, padahal itu maÂkanan ternak juga,†kata Hartono kepada Rakyat Merdeka.
Dia mengatakan, saat ini harga pokok pembelian (HPP) telur ayam Rp 15.750 per kg sedangÂkan harga jual dari peÂternak Rp 16.000 per kg. SeÂmentara harga di pasar saat ini mencapai Rp 17.000 sampai Rp 18.000 per kg.
Menurut Hartono, harga jual tersebut sudah memperhitungkan dampak kenaikan tarif dasar listrik (TDL). Kendati begitu, dia menilai, keuntungan Rp 250 itu sangat minim, apalagi harga maÂkanan ternak terus mengalami peningkatan. Karena itu, pihakÂnya akan meminta kepada pemeÂrintah agar HPP telur dinaikkan menjadi Rp 18.000 per kg.
“Harga Rp 18.000 masih bisa diterima, kami berharap KemenÂterian Perdagangan (Kemendag) bisa mempertimbangkannya,†harapnya.
Menurut dia, kebutuhan akan telur ayam dan ayam pada 2013 akan mengalami kenaikan 10 persen. Hal ini menyesuaikan dengan target pertumbuhan ekoÂnomi Indonesia.
Terkait dengan isu flu burung, kata Hartono, tidak berdampak pada peternak ayam karena itu menyerang bebek. Justru, perÂminÂtaannya malah naik.
“Kita sudah menerapÂkan sisÂtem dan kesehatan untuk hewan karena kami tidak mau kejadian tahun 2003 dan 2004 terulang,†jelas Hartono. [Harian Rakyat Merdeka]